Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan

17 Juni 2013

Eddy Etaeta: Ukir Sejarah Ketiga

Resmi tercatat sebagai anggota FIFA pada 1990, Tahiti memulai debut pada pertandingan resmi internasional di Pra Piala Dunia 1994. Namun tim Fenua tak kuasa bersaing dengan Australia pada persaingan grup.

Tahiti finis di posisi kedua di bawah Australia namun di atas kepulauan Solomon. Hal itu tak lepas dari kemenangan 4-2  atas kepulauan Solomon. Itu adalah satu-satunya kemenangan Tahiti di ajang internasional resmi pertamanya.

Salah satu pemain yang ikut andil pada kemenangan pertama Tahiti itu adalah Eddy Etaeta. Laga di Papeete (Tahiti) menjadi debut Etaeta pada sebuah pertandingan resmi. Sebelum-sebelumnya, seperti tim Fenua sendiri, Etaeta hanya tampil pada laga tak resmi yang tak tercatat di FIFA.

Etaeta tampaknya telah ditakdirkan untuk mencetak sejarah bersama tim Fenua. Sejarah itu pun tak lepas dari nama kepulauan Solomon. Di negara itulah, dua dekade berselang setelah  debutnya pada laga resmi internasional. Etaeta mengantarkan Fenua meraih trofi mayor pertama sepanjang sejarah. Tahiti menjadi juara Piala Oseania 2012 pada 10 Juni 2012.

Keberhasilan menjuarai Piala Oseania 2012  memberikan tiket Piala Konfederasi 2013. Etaeta pun berkesempatan mencetak sejarah ketiga di Team Fenua. Bertanding melawant dua tim juara dunia, Spanyol dan Uruguay, yang berada satu grup dengan timnya yang rata-rata berstatus pemain amatir.

"Hal luar biasa bagi kami yang akan menjadi representasi 250 ribu jiwa warga Tahiti. Kami akan berusaha sebaik mungkin melawan dua juara dunia.
Perasaan lebih hebat akan dirasakan  apabila kami bisa mencetak gol. Terutama saat melawan Spanyol di stadion bersejarah Maracana," ungkap Etaeta.

Etaeta punya motivasi besar untuk bisa memberikan yang terbaik bagi rakyat Polinesia Prancis. "Bagi kami sepak bola adalah seperti agama," ucap Etaeta menggambarkan peran sepak bola di negaranya.

Piala Konfederasi Ajang Promosi

Tim Fenua Tahiti

Polinesia Prancis tak hanya punya pantai indah. Perkembangan sepak bola di negara tersebut pun sangat pesat.

Apa yang terbesit di benak orang saat menyebut menyebut nama Tahiti? Laut biru, pasir putih dan pemandangan indah mungkin menjadi jawaban populer. Hal yang wajar karena negara kepulauan yang punya nama resmi Polinesia Prancis itu berhias sejumlah pantai indah. Salah satu yang terkenal adalah Bora-Bora. Tahiti sendiri adalah nama pulau terbesar dan diambil untuk memudahkan pengenalan.

Akan tetapi Tahiti tidak hanya punya pantai indah. Sepak bola di negara tersebut pun punya potensi berkembang. Asosiasi sepak bola Tahiti memang baru terbentuk  pada 1989. Tapi sejarah sepak bola di negara tersebut telah berlangsung empat dekade sebelumnya.

Sepak bola di Tahiti dikenalkan oleh bangsa Prancis yang menjadi koloninya. Laga internasional pertama di negara tersebut dimainkan pada 21 September 1952 melawan Selandia Baru. Namun baru sejak Asosiasi Sepak Bola Tahiti (FTF) terbentuk pada 1989, perkembangan sepak bola mulai terarah.

Perkembangan sepak bola kian pesat setelah Tahiti mendapatkan  bantuan FIFA Goal Project pada 2006. Beragam fasilitas dibangun dan diperbaiki. Manfaatnya langsung terlihat. Tak sampai dua tahun Tahiti langsung berbicara di level internasional. Untuk kali pertama sepanjang sejarah, ada nama Tahiti di daftar kontestan putaran final turnamen antar negara dalam lingkup global.

Pada 2008 timnas U-20 Tahiti melaju ke final Piala Dunia setelah berhasil menjadi juara Piala Oseania. Empat tahun berselang, sejumlah pilar tim U-20 itu menjadi bagian dari keberhasilan Tahiti meraih trofi internasional pertamanya. Keberhasilan menjadi juara oseania pada 2012 menjadi puncak pertamanya.

Tim Fenua menjadi wakil dari samudra pasifik pertama yang bisa menjuarai kejuaraan tersebut. Sebab sejak 1980 ketika Piala Oseania pertama kali digear, trofi juara hanya dimiliki oleh Australia dan Selandia Baru. Terlepas dari kehilangan Australia yang memilih bergabung dengan Asia, keberhasilan tim Fenua patut diacungi jempol.

Polinesia Prancis merupakan negara dengan jumlah penduduk terminim yang bisa menjuarai turnamen antar negara. Meski memiliki 146 klun sepak bola dan sekitar sebelas ribu pemain, jumlah total penduduk negara tersebut tak sampai 250 ribu jiwa. Hanya 0,1 persen penduduk Indonesia.

Perkembangan yang pesat di Tahiti itu pun dipantau FIFA. Pada September 2013 nanti, negara tersebut ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola Pantai 2013. Itulah untuk kali pertama, ada negara di samudera Pasifik yang menggelar turnamen sepak bola level dunia. Sebuah pengakuan atas keindahan pantai sekaligus sepak bola di negara tersebut.

Ajang Promosi

Keberhasilan menjadi juara Piala Oseania sekaligus meraih tiket ke Piala Konfederasi 2013 disambut suka cita oleh para penggawa tim Fenua."Kami sungguh tak menyangka dengan keberhasilan ini," kata pelatih Eddy Etaeta saat itu. "Kini para pemain harus sadar bahwa akan menghadapi tantangan berat. Tidak hanya menantang negara-negara kepulauan lain, tapi tim-tim terbaik dunia di Piala Konfederasi."

Antusiasme tinggi juga ditunjukkan oleh para penggemar saat melakukan 100 hari pemusatan latihan jelang Piala Konfederasi. "Untuk negara kecil seperti kami, tampil di Piala Konfederasi merupakan kesempatan besar. Kans untuk meningkatkan level sepak bola juga cabang olah raga lain ke jenjang yang lebih tinggi,: ujar striker Marama Vahirua.

Dalam persiapan, hasil yang didaptkan Vahirua dkk memang tidak terlalu memuaskan. Pekan lalu mereka sempat dibantai 0-7 oleh tim U-20 Cile. Tapi hal tersebut tak membuat nyali mereka langsung ciut. Sebaliknya tim besutan Etaeta itu menilai kekalahan dari Cile sebagai pelajaran penting.

"Tim U-20 Cile merupakan juara Amerika Selatan. Saya berharap kekalahan ini menjadi pemicu bagi kami. Para pemain harus bereaksi positif dari ujian yang telah didapat.," ungkap Etaeta.

Bagi Vahirua, tujuan utama dari keikutsertaan di Piala Konfederasi bukanlah mengejar prestasi,. Dia melihat ada kesempatan besar untuk mengenalkan sepak bola Tahiti kepada dunia. Dia ingin Tahiti tak hanya dikenal melalui keindahan pantainya.

"Turnamen ini menjadi kesempatan bagi kami untuk membuktikan bahwa sepak bola Tahiti tak hanya terbatas di kepulauan," ujarnya.

16 Juni 2013

Suarez: Semangat Memburu Gol

Prancis sangat kecewa dikalahkan Uruguay pada laga persahabtan yang digelar Kamis (6/6). Mereka geram karena merasa menguasai pertandingan. Namun sepak bola bukan cuma penguasaan bola. Kemampuan menyelesaikan serangan menjadi gol malah lebih menentukan.

Terkait hal ini, Les Bleus angkat topi kepada La Celeste. Striker Prancis, Oliver Giroud menilai Uruguay lebih killer  karena bisa menyelesaikan peluang menjadi gol. Lebih spesifik, Giroud memuji kinerja striker Uruguay, Luis Suarez yang mencetak gol semata wayang timnya.

Menurut Giroud, Suarez tidak boleh dibiarkan lepas sedetik saja. "Kualitas Suarez begitu termasyhur. Memberinya ruang sekecil apapun, selesailah semuanya," kata Giroud.

Dia tidak berlebihan. Suarez memang bagai meonster di depan gawang. Uruguay begitu menikmati gol-golnya. Dari 64 laga yang dilakoninya, Suarez sanggup mencetak 32 gol. Prestasi ini membuatnya hanya berada di bawah Diego Forlan yang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi uruguay berkat sumbangan 33 golnya.

Tidak aneh, Uruguay akan mengandalkan Suarez. Gayanya yang pantang menyerah memang sering membuat lawan naik darah. Tapi itulah inti La Garra Charrua yang disukai publik Uruguay.

Suarez pasti akan bersemangat untuk mencetak gol di Piala Konfederasi. Sumbangan satu gol saja bisa membuatnya sejajr dengan Forlan sebagai pencetak gol terbanyak bagi negerinya. Jika mampu lebih banyak dan Forlan tidak mencetak gol, Suarez akan berada di urutan teratas.

Uruguay jelas mengharap gol Suarez akan mengalir deras. Memiliki pencetak gol subur memudahkan meraih sukses di Piala Konfederasi.

Lihat, selain pada 1999, pencetak gol terbanyak selalu membawa timnya juara Piala Konfederasi. Itu akan membauat Suarez tampil bersemangat.

Bukti Kapasitas El Maestro Tabarez

tabarez
Julukan yang diberikan publik kepada Oscar Washington Tabarez menunjukan kemampuan yang dimiliki. Dia dijuluki publik Uruguay sebagai El Maestro yang berarti 'Sang Guru'. Tidak berlebihan mengingat selain memang pernah berprofesi sebagai pengajar. Tabarez memiliki pengalaman panjang di dunia kepelatihan. Itu pula yang membuat Uruguay memercayai Tabarez sebagai pelatih lagi sejak 2006 setelah pada 1998 hingga 1990 mendapat kepercayaan serupa.

Uruguay tidak salah pilih. Tabarez mengantar Uruguay menembus semi final Piala Dunia 2010. Selain itu dia juga menghadiahkan titel jawara Copa America 2011. Ketika Pra Piala Dunia 2014 mulai bergulir, langkah Uruguay tetap meyakinkan.

Akan tetapi tiu cerita lalu. Belakangan kehebatan Uruguay di bawah Tabarez menguap. Uruguay tidak pernah menang dalam enam pertandingan Pra Piala Dunia 2014 zona Conmebol terakhir. Akibatnya La Celeste terancam tidak lolos ke Piala Dunia 2014.

Sialnya dunia sepak bola selalu berubah dengan cepat. Kini, publik Uruguay mulai meragukan kemampuan El Maestro. Dia tidak lagi dipandang sebagai orang yang tepat menangani Uruguay.

Tentu saja Tabarez tidak mau pergi begitu saja. Dia masih percaya Uruguay bisa bangkit. Secara pribadi dia pun memiliki misi khusus. Piala Konfederasi dipakai sebagai pembuktian kapasitas. Inilah saat tepat untuk membuktikan bahwa dia masih menjadi orang yang tepat untuk menangani Uruguay.

Kepercayaan diri masih dimiliki Tabarez. Terbukti dia masih yakin anak didiknya bisa tampil mengejutkan di Piala Konfederasi 2013. Menanggapi peluang timnya yang tergabung satu grup bersama Spanyol, Nigeria dan Tahiti, Tabarez berujar, "Semua tergantung persiapan. Kebetulan kami memiliki pengalaman panjang mengenai hal tersebut. Kami tidak boleh terlena atau malah berfikir negatif sebelum turnamen digelar. Saya mengerti betul tentang ini, begitu pula para pemain saya."
-->

Uruguay: Beban Jawara Copa America

timnas uruguay

Gengsi zona Conmebol digantungkan kepada La Celeste. Sayang, itu malah membebani.

Esensi Piala Konfederasi ialah mengadu para jawara setiap konfederasi. Otomatis setiap tim tidak sekadar mempertaruhkan gensi negaranya. Nama besar konfederasi  tempat bernaung dibebankan kepada mereka.

Uruguay yang menjadi wakil Conmebol setelah menjuarai Copa America 2011 tidak bisa menghindari beban tersebut. Publik Amerika Selatan menggantungkan harapan  kepada mereka, selain ke Brasil  yang menjadi tuan rumah.

Mampukah La Celeste memenuhi ekspektasi publik Amerika Selatan untuk berjaya di Piala Konfederasi 2013? Ini mesti diperjuangkan dengan keras. Uruguay bukanlah favorit. Masih adal Brasil dan Spanyol yang dinilai lebih berpeluang.

Selain itu Uruguay harus mematahkan tradisi buruk yang menimpa jawara Copa America. Kecuali Brasil pada 2009, jawara Copa America pasti gagal meraih trofi Piala Konfederasi.

Ironisnya, catatan mengenaskan itu malah dimuali oleh Uruguay. Berlaga di Piala Konfederasi 1997 dengan status jawara copa America 1995, La Celeste tidak mampu tampil maksimal. Mereka mesti puas terhenti pada semi final.

Di Piala Konfederasi 1999, kisah buruk jawara Copa America sebenarnya dihentikan oleh Brasil yang menjadi juara. Namun Selecao tidak berpartisipasi dengan status juara Copa America. Brasil masuk karena menjadi runner up Piala Dunia 1998.

Posisi Brasil digantikan oleh Bolivia sebagai runner up Copa America 1997. Tapi Bolivia tidak lolos dari penyisihan grup.

Sesudah itu, kisah tim yang datang lewat jalur Copa America terus berakhir buruk. Juara Copa America 1999, Brasil, hanya menduduki peringkat keempat di Piala Konfederasi 2001. Kolumbia yang menjuarai Copa America 2001 bernasib sama di Piala Konfederasi 2003.

Argentina yang masuk Piala Konfederasi 2005 berkat prestasi runner up Copa America 2004 juga bernasib getir.  Albiceleste menembus final, tapi pada laga puncak mereka dikalahkan Brasil yang masuk dengan status juara Piala Dunia 2002, meski menjuarai Copa America 2005.

Fakta itu memang hanya catatan sejarah. Tak ada kaitan langsung yang bisa menentukan kiprah  Uruguay. La Celeste boleh memandangnya sebagai peringatan agar berjuang lebih keras di Piala Konfederasi 2013.

Tren Turun

Akan tetapi Uruguay tidak bisa menyepelekan tren penurunan performa yang dialami. Lihat dalam enam laga resmi terakhir di Pra-Piala Dunia 2014, Edinson Cavani dkk tidak pernah menang. Mereka kalah empat kali dan seri dua kali.

Rentetan hasil buruk itu membuat posisi Uruguay terlempar ke peringkat ketujuh klasemen Pra-iala Dunia 2014 zona Conmebol. Jika tidak segera diperbaiki, La Celeste bakal gagal bermain di Piala Dunia.

Tentu saja itu membuat persiapan Uruguay ke Piala Konfederasi 2013 tidak ideal. Namun jika mampu memandang kekurangan menjadi kekuatan, La Celeste bisa mengejutkan . Menariknya, Uruguay mencoba melakukan hal tersebut. Pelatih Oscar Tabarez menandaskan ingin menjadikan Piala Konfederasi 2013 sebagai pembuktian komitmen skuad terhadap kostum La Celeste.

"Target kami yang pertama dan utama adalah menikmati Piala Konfederasi. Setiap kali berlaga di turnamen internasional, tim-tim penting pasti hadir. Tentu saja kami ingin bertahan sejauh mungkin," kata Tabarez.

Harapan Tabarez seperti didengarkan oleh para pemainnya. Pada laga persahabatan terakhir menjelang Piala Konfederasi 2013, La Celeste sanggup memetik kemenangan atas Prancis pada Kamis (6/6). Meski hanya menang 1-0, Uruguay memperlihatkan tanda-tanda perbaikan performa. Minimal penyelesaian akhir La Celeste membaik.

Itulah modal Uruguay datang ke Brasil untuk berlaga di Piala Konfederasi 2013. Meski datang dengan kinerja kurang meyakinkan, jangan lupakan para pemain yang ada di skuad Le Celeste merupakan bintang papan atas. Duet striker Luis Suarez dan Cavani pasti tidak akan disepelekan oleh lawan-lawannya. Belum lagi deretan para pemain berpengalaman macam Fernando Muslera, Diego Lugano, hingga Diego Forlan.

Jika mampu menampilkan spirit khas, La Garra Charrua, La Celeste tetap bisa meledak di Piala Konfederasi 2013.

URUGUAY

Status: Juara Copa America 2011
Kepastian Lolos: 28 Juni 2012
Tampil: 1997
Rekor: 3 menang-2 kalah
Prestasi Terbaik: Peringkat ke empat (1997)

15 Juni 2013

Javier Hernandez Sang Penerus Tradisi

Javier Hernandez Sang Penerus Tradisi
Timnas Meksiko sudah lama kerap melahirkan striker hebat. Pada era 1980-an muncul nama Hugo Sanchez dan Carlos Hermosillo. Dekade berikutnya, giliran Luis Garcia dan Luis Hernandez bersinar. Sedangkan pada dekade awal milenium baru, Jared Borgetti  serta Cauthemoc Blanco sempat menjadi fenomena.

Tradisi itu kembali berlanjut pada dekade kedua milenium baru. Kali ini, calon bintang baru dari lini depan muncul dalam diri Javier Hernandez. Sejak tampil di Piala Dunia 2010, Chicharito nyaris selalu mengisi posisi sebagai striker utama El Tri.

Hernandez berpeluang melewati prestasi para striker legendaris Meksiko. Pasalnya, saat ini dia berada dalam lima besar pencetak gol terbanyak sepanjang masa El Tri. Hingga saat ini, Hernandez telah mengemas 32 gol dalam 49 laga (hingga 8 Juni) bersama Meksiko.

Andai setidaknya mencetak dua gol di Piala Konfederasi 2013, Chicharito akan menyamai torehan Hermosillo dan Hernandez yang berada di peringkat ketiga dengan 32 gol. Dia pun saat ini hanya terpaut tujuh gol dari Blanco di posisi kedua dengan 39 gol.

Di Brasil, Chicharito akan memegang peran penting. Di mata pelatih Manuel de la Torre, dia dinilai punya kelebihan yang membuat El Tri lebih fleksibel. "Bermain sendiri atau berduet, Hernandez tidak mengalami masalah. Kami bisa menentukan susunan lini depan tergantung tipe lawan," ujar sang pelatih.

Meksiko: Tak Ada Target Muluk

Meksiko
Tanpa target muluk, Meksiko bisa tampil tanpa beban dan membuat kejutan besar.

Ada misi khusus yang dibawa Meksiko di Piala Konfederasi 2013. Bila peserta lain datang dengan target meraih gelar, kubu El Tri justru menjadikan ajang ini sebagai batu lompatan untuk meraih kesuksesan di kompetisi lain.

Saat ini, Meksiko agak terpuruk di Pra Piala Dunia 2014 zona Concacaf. Meski menjadi unggulan, tim asuhan Manuel de La Torre itu terseok-seok. Dalam laga awal, El Tri hanya memetik tujuh poin.

Oleh karena itu, Piala Konfederasi akan dijadikan momentum kebangkitan. Hasil di ajang ini tidak akan menjadi patokan utama. Sebab, ada target lain yang dianggap lebih penting, yakni mengamankan tiket Piala Dunia 2014. Meski begitu, dengan tampil tanpa beban, El Tri berpotensi membuat kejutan.

"Kami percaya diri terhadap langkah kami. Kritik sama juga sempat menerpa kami jelang Olimpiade. Tapi, hasilnya Anda bisa lihat sendiri," ujar De la Torre.

"Tujuan kami adalah lolos dari penyisihan grup. Setelah itu, baru berpikir tentang merebut gelar. Itu sangat jelas ada di pikiran kami."

Di Olimpiade 2012, Meksiko memang mengejutkan. Meski tidak diperhitungkan, tim ini mampu tampil sebagai juara.

Wajar bila De la Torre tidak memasang target besar untuk anak asuhannya. Sebab, Meksiko akan menghadapi lawan-lawan tangguh di babak penyisihan. Selain menghadapi tuan rumah Brasil, El Tri mesti menghadapi runner up Euro 2012, Itali, dan juara Piala Asia 2011, Jepang.

Akan tetapi Meksiko tidak perlu minder. El Tri memiliki catatan pertemuan apik. Dari empat laga kontra Italia, Meksiko tidak pernah kalah dalam tiga pertemuant erakhir. Bahkan, mereka mampu menang 2-1 pada perjumpaan terakhir, 3 Juni 2010.

Tren positif juga dimiliki Meksiko setiap menghadapi Jepang. Dari dua pertemuan, El Tri selalu menang. Pada laga uji coba tahun 2000, Meksiko unggul 1-0. Sementara itu, pertemuan di Piala Konfederasi 2005 dimenangi El Tri dengan skor 2-1.

Asah Ketajaman

Melawan Brasil, Meksiko juga punya rekor bagus. Dua tahun terakhir, El Tri selalu menang atas tim Samba. Pada 2011, Meksiko unggul 2-0 pada laga persahabatan. Setahun kemudian, saat bertemu di final Olimpiade 2012, Brasil kembali takluk dengan skor 1-2.

Fakta ini stidaknya membuat Giovani dos Santos cs bisa percaya diri. "Kami memiliki generasi yang terdiri dari pemain-pemain hebat. Mereka telah merasakan kesuksesan di tempat mereka bermain. Saya pikir, kami memiliki modal untuk mengarungi tahun yang hebat," ujar Santos.

Di Piala Konfederasi, De la Torre akan mengandalkan sekitar 70 persen pemain yang berasal dari kompetisi lokal. Namuns ebanyak 30 persen pemain dari luar memiliki kontribusi besar di dalam tim. mereka merupakan andalan di lini penyerangan Meksiko.

Dalam pola 4-3-1-2, striker Manchester United, Javier Hernandez diplot sebagai penyerang tunggal. Dia akan mendapat sokongan dari tiga legiun Eropa lainnya di posisi gelandang serang. Javier Aquino yang merumput bersama Villareal bermain di sisi kanan, sedangkan winger Andreas Guardado (Valencia) di sisi kiri. Sementara itu, Dos Santos akan melakukan tusukan dari tengah.

Tugas De la Torre tinggal memompa kepercayaan diri pemain yang sempat terpuruk karena hasil kurang bagus belakangan ini. Dia juga mesti mengasah ketajaman lini depan yang kini menjadi problem Meksiko. Maklum, dalam lima laga kualifikasi Piala Dunia 2014, meksiko hanya membuat tiga gol.

"Benar bahwa kami jarang mencetak gol. Itu sebabnya kami mesti memperbaiki diri. Kami sering mendapat kesempatan (mencetak gol) yang bisa mengubah pertandingan," ujar De la Torre.

Walau tak dibebani target muluk, Meksiko tak akan tampil loyo. Sebab, gelar juara akan memperpanjang kesuksesan El Tri. Dua tahun terakhir, mereka mampu menjuarai Piala Emas Concacaf 2011 dan Olimpiade 2012. Gelar di Piala Konfederasi tentu akan menyempurnakannya.

FAKTA MEKSIKO

Status: Juarai Piala Emas Concacaf 2011
Kepastian lolos: 25 Juni 2011
Tampil: 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2013
Main: 19 kali
Rekor: 8 menang - 5 seri - 6 kalah
Prestasi terbaik: Juara (1999)

Afirmasi Taktik Cesare Prandelli

Cesare Prandelli
Publik Italia sangat gemar membahas taktik dan strategi tim sepak bola. Tidak mengherankan, pola permainan Gli Azzuri selalu menjadi perdebatan hangat. Apapun formasi yang dipakai tim nasional Italia pasti akan mengundang polemik.

Kondisi seperti ini harus diantisipasi siapa saja yang menduduki kursi  pelatih Gli Azzuri, tak terkecuali Cesare Prandelli. Dia mesti siap mengambil keputusan dan menjelaskan alasannya dengan gamblang kepada publik.

Kali ini perdebatan mengenai strategi terbaik Gli Azzuri di Piala Konfederasi 2013 juga mengemuka. Prandelli disebut-sebut ragu dalam menentukan formasi antara 4-3-1-2 atau 4-3-3.

Fakta ini mengemuka melihat perbedaan strategi yang dipakai Gli Azzuri dalam laga persahabatan dan turnamen resmi. Selama ini, empat dari lima laga Pra-Piala Dunia 2014 dilakoni Italia dengan formasi 4-3-1-2. Namun dalam lima laga persahabatan, Italia malah dominan memainkan 4-3-3.

Menanggapi ini, Prandelli berusaha menunjukkan ketegasan sikap. Dia berkeras menyatakan Italia akan memakai pola 4-3-1-2. "Kami akan terus menggunakan strategi 4 midfielder di lini tengah," ujarnya. "Pola 4-3-3 sangat menarik dan kami juga sedang berusaha menguasainya. Kami harus bisa mengganti strategi dalam pertandingan dengan memanfaatkan  penguasaan dua atau tiga taktik berbeda."

Pola 4-3-1-2 bukanlah strategi asing bagi Gli Azzuri. Namun ada masalah yang harus diselesaikan oleh Prandelli. Strategi 4-3-1-2 membutuhkan gelandang serang jempolan. Padahal Italia tidak memiliki nama besar yang bisa mengisi posisi tersebut. Kemampuan Emanuele Giaccherni, Alessandro Diamante dan Riccardo Montolivo yang pernah dicoba dinilai meragukan.

Akan tetapi, bukan Prandelli jika tidak menemukan solusi. Terlihat jelas di Piala Eropa 2012, dia mampu membuat lawan-lawan Gli Azzuri terperangah dengan fleksibilitas taktik yang dimiliki. Akibatnya, secara mengejutkan, italia sanggup menembus final. Bukan tak mungkin kalau kali ini Prandelli kembali mengundang decak kagum di Piala Konfederasi 2013.

Casillas: Balas Kepercayaan Del Bosque

Musim 2012 - 2013 bisa menjadi salah satu periode yang tak ingin dikenang oleh Iker Casillas. Dia hanya beroleh gelar minor berupa piala Super Spanyol bersama Real Madrid. Malah, pada paruh kedua, kenyataan pahit harus diterima kapten El Real itu. Statusnya sebagai kiper utama dilengserkan oleh pelatih Jose Mourinho.
Kendati hampir setengah tahun tak turun membela Madrid, Casillas ternyata tetap dipercaya oleh Vicente Del Bosque  untuk memimpin Spanyol di Piala Konfederasi 2013 ini.  Del Bosque yakin Casillas dalam kondisi siap. Kendati tak sekalipun dimainkan oleh Mourinho usai sembuh dari cedera.

"Tak perlu khawatir, seorang pesepak bola meski tak bermain pasti akan tetap berlatih," jelas pelatih yang memantau Casillas sejak saat pertama kali  bergabung dengan Akademi Madrid.

iker casillas"Kami datang ke Brasil dengan skuad terbaik yang kami miliki dan Casillas adalah salah satu diantaranya. Entah sebagai cadangan atau tampil di lapangan, dia akan berseragam timnas. Seperti yang sudah-sudah, kami memiliki tugas untuknya."

Kepercayaan Del Bosque itu tentu ingin dibalas Casillas dengan penampilan apik.

"Aku sangat gembira dan berterima kasih kepada Del Bosque atas kepercayaan yang diberikan, meski selama empat bulan sama sekali tak  bermain di pertandingan kompetitif.
Untuk membalasnya, tak ada cara lain keculi tampil apik bersama timnas. Aku harap gelar selanjutnya akan kami raih," tekad pemegang rekor penampilan terbanyak bersama La Furia Roja itu.

Seperti halnya La Furia Roja, Casillas juga mengincar rekor gelar beruntun sebagai kapten tim nasional. Gelar Piala Konfederasi akan kian melengkapi raihan gelar yang pernah diraih sekaligus pelipur lara atas kenahasannya pada paruh kedua.

Vicente Del Bosque: Bermodalkan Sabar Dan Kalem

Keberhasilan mengantarkan Spanyol menjuarai Euro 2012 mencatatkan nama Vicente Del Bosque dengan tinta emas ke buku sejarah sepak bola. Dialah satu-satunya pelatih yang bisa membawa timnya juara Liga Champions, Piala Dunia dan Piala Eropa.

Sebelum Del Bosque, seorang pelatih paling banter hanya bisa merebut dua dari tiga piala itu. Ambil contoh Marcelo Lippi dan Helmut Schon. Lippi hanya bisa merebut rofi Liga Champions bersama Juventus dan mengantarkan Italia meraih trofi Piala Dunia 2006. Sedangkan Schon hanya berhias dua gelar level timnas Jerman (Barat) pada 1972 dan 1974.

Del Bosque hingga saat ini juga tercatat sebagai pelatih Spanyol dengan jumlah laga terbanyak. Saat menang 3-1 atas Uruguay (6/2) lalu, dia menyamai catatan Ladislao Kubala yang memimpin Spanyol dalam 68 partai. Hingga pertandingan persahabatan melawan Republik Irlandia (11/6), Del Bosque sudah 72 kali memimpin La Furia Roja.

Lantas apa resep Del Bosque hingga bisa bertahan selama itu?

Saat menjadi pembicara pada simposium yang dihelat Federasi Sepak Bola Afrika (CAF), 13 Mei lalu, eks pelatih Real Madrid itu membeberkan resepnya.


"Terpenting adalah bangun kepercayaan antara pemain dan staf pelatih. Dalam mengatasi konflik yang mungkin muncul, usahakan bersikap kalem dan sabar. Jika perlu gunakan humor. Pelatih tak boleh mengucapkan hal buruk tentang pemain. Masukan dari staf kepelatihan dan pemain juga jangan diabaikan," beber Del Bosque.

Memotivasi juga dianggap sebagai faktor yang sangat penting. "Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan. Seorang pemimpin harus bisa berbagi suka dan duka dengan tim. Sebab seperti dikatakan pebasket Michael Jordan, talenta mungkin bisa memenangi pertandingan, tapi untu menang kejuaraan dibutuhkan kerja sama," tegasnya.

Kerja sama dan kondisi tim yang harmonis memang menjadi modal Spanyol merajai Eropa dan dunia dalam lima tahun terakhir. Del Bosque menjadi sosok yang berjasa di belakangnya.

Spanyol: Perburuan Sisa Gelar

Timnas Spanyol

Setelah Piala Eropa dan Piala Dunia, Piala Konfederasi akan mempertegas status La Furia Roja sebagai tim terbaik dunia.

Spanyol datang ke Piala Konfederasi 2013 dengan status mentereng. La Furia Roja bersatus juara Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Bermodal dua gelar itu, Spanyol datang ke Brasil untuk mempertegas dominasinya. Gelar Piala Konfederasi akan melengkapi kisah sukses Spanyol dalam lima tahun terakhir.

Ambisi itu secara tersirat diungkapkan Juan Mata. "Spanyol tengah menikmati periode terhebat sepanjang sejarah. Wajar apabila seluruh lawan ingin mengalahkan kami. Malah ada pemain lawan yang sempat meminta kami untuk tidak terlalu serius menghadapi negaranya," seloroh pemain Chelsea tersebut. "Fakta tersebut jelas membuat kami bangga."

Mata menargetkan hasil positif dari keikutsertaan di Piala Konfederasi 2013. "Turnamen tersebut akan menjadi ajang yang pas untuk mempersiapkan diri jelang Piala Dunia tahun depan. Akan sangat fantastis apabila kami bisa melangkah ke final, bermain di stadion Maracana dan meraih gelar," tekad Mata merujuk stadion tempat final dilangsungkan yang dinilainya memiliki atmosfer fantastis.

Bukan sekadar seumbar. Pemain yang didaftarkan pelatih Vicente Del Bosque ke Piala Konfederasi kali ini punya mentalitas pemenang. Dari 23 nama, hanya Roberto Soldado, Cesar Azpilicueta dan Nacho Monreal yang belum berhias gelar internasional bersama timnas Spanyol. Dari ketiganya, cuma Monreal yang sama sekali belum mengoleksi trofi juara bersama La Furia Roja. Sedangkan Soldado dan Azpilicueta pernah merasakannya bersama tim U-21 Spanyol di Piala Eropa 2004 dan 2011.

"Soldado memang pantas dipanggil. Dia menjalani musim yang hebat bersama Valencia," ungkap del Bosque soal lebih memilih Soldado dibandingkan mendaftar Michu, Iago Aspas atau Avaro Negredo yang menjadi favorit fans.

"Cesc Fabregas, Fernando Torres, David Villa dan Soldado adalah penyerang terbaik kami saat ini. Lagipula tak mungkin untuk memuaskan kehendak semua orang. Tak mungkin pula bagi kami membawa seluruh pemain," jelas Del Bosque lagi.

"Semua pemain yang dibawa sangat ingin bertanding di Piala Konfederasi. Mereka sangat berambisi memenanginya."

Bermodal skuad terbaik Spanyol - minus Xabi Alonso yang cedera, Del Bosque melangkah ke Piala Konfederasi 2013 dengan penuh optimisme. Tapi tetap dengan kewaspadaan penuh. "Kami harus memforsir permainan hingga ke level terbaik," tegasnya.

Stop Dominasi

Del Bosque memang pantas waspada. Pada keikut sertaan pertama empat tahun lalu di Afrika Selatan, Spanyol yang datang sebagai juara Eropa, tampil sebagai juara Grup A dengan menyapu bersih tiga laga, tanpa sekalipun gawang Iker Casillas dijebol lawan. Namun di semi final mereka kalah 0-2 dari Amerika Serikat.

Kegagalan itu sempat membuat posisi Del Bosque sebagai pelatih sedikit goyah. Maklum, itu adalah turnamen internasional pertamanya sejak mengambil alih kursi Luis Aragones yang sukses di Euro 2008.

"Setelah empat tahun, kegagalan di Afrika Selatan itu masih membekas," kenang Del Bosque. "Kini kami datang setelah memenangi Piala Dunia 2010 dan Euro 2012. Piala Konfederasi 2013 adalah tantangan berikutnya yang ada di benak timnas Spanyol. Kami akan berusaha tampil dalam bentuk permainan terbaik dan merebut gelar juara."

Untuk mewujudkan ambisi itu, langkah Spanyol memang tak mudah. Terdapat sejumlah negara yang bisa menjegal,. Uruguay sebagai rival di Grup B, juga Italia dan Brasil. Terutama Selecao yang berstatus tuan rumah. Seperti halnya Spanyol, Brasil juga ingin menjaga dominasi yang telah ditorehkan. Bedanya, dominasi Brasil khusus di Piala Konfederasi dengan status juara tersering, tiga kali.

Del Bosque pun paham dengan tantangan yang dihadapinya. "Brasil, siapapun pelatih yang menukanginya, merupakan kekuatan sepak bola dunia. Dengan sejumlah pemain bintang yang dimiliki serta sejarah panjang yang ditorehkannya, Selecao adalah tim yang harus dikalahkan," tegas satu-satunya pelatih yang bisa meraih titel Liga Champions, Piala Eropa dan Piala Dunia itu.

Harapan Spanyol itu bisa jadi menjadi asa sebagian besar penduduk Eropa. Maklum, sejak Prancis sepuluh tahun lalu, tak ada wakil Eropa yang berjaya di Piala Konfederasi. Paling mentok adalah juara ketiga seperti dilakukan Jerman (2005) dan Spanyol empat tahun lalu. Mitos negatif yang coba dipatahkan La Furia Roja tahun ini.

Fakta Spanyol

Status: Juara Piala Dunia 2010
Kepastian lolos: 11 Juni 2010
Tampil: 2009, 2013
Main: 5 kali
Rekor: 4 menang - 1 kalah
Prestasi terbaik: Peringkat ketiga (2009)

14 Juni 2013

Piala Konfederasi Sebagai Lahan Uji Coba Neymar

Neymar
Diantara pemain-pemain yang dipersiapkan Brasil untuk ajang Piala Konfederasi 2013, nama Neymar da Silva Santos Junior merupakan yang paling mencuri perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, pemain berusia 21 tahun itu tak hanya menjadi fenomena di negaranya, tapi juga seantero dunia.

Banyak penggemar sepak bola yang penasaran terhadap aksi-aksinya. Maklum, kiprah Neymar bersama Santos belum terlalu terekspos. Sebab, tidak banyak negara menyiarkan kompetisi sepak bola Brasil.

Di level internasional, kiprah Neymar bersama timnas Brasil juga tidak terlalu menonjol. Tahun lalu, dia gagal membawa negaranya tampil sebagai juara Olimpiade 2012. Setelah itu, dia hanya tampil di laga sekelas uji coba internasional. Sebab, sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, Brasil tidak mengikuti kualifikasi.

Oleh karena itu, Piala Konfederasi 2013 menjadi saat yang tepat untuk Neymar unjuk gigi. Apalagi dia akan bersua tim-tim kuat. "Neymar merupakan pemain yang luar biasa. Piala Konfederasi akan menjadi panggung ideal baginya untuk unjuk gigi. Dia memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk menunjukkan  kemampuannya ke hadapan dunia," puji presiden FIFA Sepp Blatter.

Apabila mampu tampil bagus dan membawa negaranya berjaya, keraguan terhadap dirinya akan sirna. Ini sekaligus menjadi bekal baginya sebelum menjajal kompetisi Eropa bersama Barcelona musim depan.

"Aku sangat senang bisa bermain di klub yang diisi pemain-pemain terbaik dunia," ujar Neymar. "Tapi saat ini aku hanya fokus di Piala Konfederasi. Hal terpenting saat ini adalah meraih gelar bersama Brasil."

Olah Bola Ala Joga Bonito

tim selecao brasil
Tanpa mengandalkan joga bonito, Selecao tetap berpotensi meraih prestasi.

Jelang Piala Konfederasi 2013, keraguan menyelimuti tim tuan rumah Brasil. Pasalnya selain meraih hasil kurang memuaskan dalam beberapa laga uji coba terakhir, Tim Samba juga belum menunjukkan permainan seperti yang diharapkan kebanyakan publik sepak bola negeri ini.

Dalam enam laga terakhir, Brasil hanya memetik dua kemenangan. Itu diraih saat menjamu Bolivia, salah satu tim terlemah di Amerika Selatan, serta raksasa Eropa yang tengah menurun, Prancis. Sisa empat laga lainnya berakhir imbang. Hasil seri tersebut dperoleh saat menghadapi Italia yang berkesudahan 2-2, Rusia 1-1, Cile 2-2 dan Inggris 2-2.

Selain itu harapan publik sepek bola Brasil menyaksikan timnya sendiri bermain cantik pun belum terwujud. Di bawah pelatih Luiz Felipe Scolari, tak tampak gaya permainan khas Brasil yang dikenal dengan joga bonito. Padahal di Brasil bermain cantik sama pentingnya dengan meraih kemenangan dan trofi juara.

"Brasil terlihat seperti kumpulan pemain yang berlari ke sana ke mari tanpa arah. Ini gila. Mereka memang menunjukkan kemauan, tapi terlalu banyak berlari. Tim ini memandang kolektivitas sebagai hal penting. Tak ada tempat bagi pemain dengan kemampuan istimewa. Tapi, Selecao tanpa gaya tentu mengherankan," kritik Rivelino, anggota Selecao kala menjuarai Piala Dunia 1970 Meksiko.

Menghilangnya gaya permainan indah Brasil di bawah penanganan Scolari sebenarnya bukan hal yang aneh. Pelatih berusia 64 tahun itu memang bukan penganut filosofi joga bonito. Dia lebih mengutamakan disiplin dan kolektivitas sebagai kunci permainan utamanya.

Di satu sisi, ini membuat permainan timnas Brasil menjadi kurang menghibur. Tapi cara ini terbukti ampuh untuk mendatangkan prestas. Di perhelatan Piala Dunia 2002, Scolari sanggup membawa tim Samba tampil sebagai juara sekaligus membungkam kritik yang sempat menerjangnya.

Sama seperti kala itu, kini pun satu-satunya cara untuk membungkam kritik adalah meraih trofi Piala Konfederasi . Gelar ajang ini akan membuat publik Brasil  percaya terhadap kemampuan sang pelatih dan timnasnya. Selain itu, kepercayaan diri pemain untuk menghadapi Piala Dunia tahun depan  semakin meningkat.

"Kami (pemain) adalah orang-orang yang paling menyadari pentingnya kemenangan untuk Brasil. Kami tidak bisa terus meraih hasil imbang dan bermain bagus tanpa meraih hasil optimal. Kini, yang kami butuhkan hanya menang agar semua bisa menjadi sempurna," ujar defender Daniel Alves.

Kutukan Juara

Pencapaian di Piala Konfederasi akan menjadi tolok ukur bagi timnas Brasil di Piala Dunia. Pasalnya, Tim Samba akan menghadapi lawan-lawan keras di babak penyisihan Grup A seperti Jepang, Italia, dan Meksiko. Jadi untuk sekadar meraih satu tiket ke semifinal bukan perkara gampang.

"Hasil undian menarik. Tim-tim di grup kami sangat seimbang. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk melihat potensi kami saat menghadapi lawan-lawan tersebut," ujar Scolari.

Untuk bisa lolos dari hadangan tim-tim tersebut, pelatih yang kerap disapa Felipao itu meminta pemainnya untuk selalu tampil sempurna. Menurutnya, "Grup ini tidak memberi kami kesempatan untuk membuat kesalahan. Menghadapi tim sekelas Italia, Meksiko dan Jepang merupakan ujian bagus.Tapi bagi kami, Piala Konfederasi tidak lebih dari sebuah ajang percobaan."

Ini menunjukkan bahwa target utama Scolari bukanlah Piala Konfederasi. Sebab dari segi gengsi, trofi Piala Dunia jauh lebih besar. Piala Konfederasi selama ini dipandang sebelah mata oleh banyak tim. Ada beberapa yang bahkan menolak tampil di sana: apalagi fakta membuktikan bahwa bagi Brasil keberhasilan meraih gelar juara Piala Konfederasi tidak selalu berujung kesuksesan di Piala Dunia.

Toh, meski hanya sasaran antar, anak-anak asuh Felipao tetap tak bisa memandang sebelah mata ajang ini. Bagaimanapun  akan lebih baik melangkah ke Piala Dunia dengan predikat juara Piala Konfederasi. Selain membuat para pemain dan publik lebih optimis, itu juga akan membuat para lawan menjadi lebih takut kala menghadapi mereka.

Sebaliknya, kegagalan di Piala Konfederasi tentu bisa berdampak buruk saat menjalani Piala Dunia karena tim-tim lain jadi punya kepercayaan diri lebih tinggi bila menghadapi mereka. Apalagi kalau Piala Konfederasi ini Selecao tak mendulang kemenangan mengesankan.

BRASIL

Status: Tuan rumah Piala Dunia 2014
Kepastian lolos: 30 Oktober 2007
Tampil: 1997, 1999, 2001, 2003, 2005, 2009
Rekor: 18 menang, 5 seri, 5 kalah
Prestasi terbaik: Juara (1997, 2005, 2009)

Scolari: Tak Silau Pemain Bintang

 Luiz Felipe Scolari
Sosok Luiz Felipe Scolari kerap menuai kontroversi di Brasil. Maklum, sebagai pelatih, dia sering membuat keputusan yang bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Saat kebanyakan pelatih terpaku dengan gaya bermain joga bonito yang lekat dengan aksi individu pemain, dia mengedepankan kolektivitas dan disiplin.

Penerapan gaya bermain ini berimbas pada pemain bintang. Mereka tidak bisa seenaknya measuk ke dalam skuad Selecao. Jika tidak mau bekerja keras untuk tim dan berbaur dalam skema permainan, jangan harap Scolari akan memanggilnya.

Saat menangani Brasil di ajang Piala Dunia 2002, Scolari meninggalkan  Romario  Faria. Padahal publik berharap pahlawan tim Samba di Piala Dunia 1994 ini masuk ke dalam tim karena produktif di klubnya, Vasco da Gama. Namun Scolari bersikeras tidak membawa Romario karena karakternya tidak sesuai dengan permainan tim Samba.

Hal serupa kembali terjadi di Piala Konfederasi 2013. Ketimbang memanggil Kaka, Ramires, Ronaldinho atau Alexandre Pato, pria yang akrab disapa Felipao ini memilih memberdayakan pemain yang masih asing di telinga seperti Fernando, Paulinho, Rever, Jean dan Bernard.

Toh Putusan tidak memanggil pemain bintang ada baiknya. Tanpa sosok yang menonjol di dalam tim, kebersamaan pemain pemain bisa lebih terjaga. Dengan begitu potensi terjadinya riak yang bisa merusak harmoni tim semakin kecil.

"Sebagai pelatih, saya mengharapkan pemain yang bisa berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi di Piala Konfederasi, kami tidak memiliki banyak waktu untuk menyatukan pemain," ujar Scolari.

Squad Terbaik Untuk Piala Konfederasi

Squad Terbaik Untuk Piala Konfederasi
Demi memenuhi target, seluruh tim datang ke Brasil dengan skuad utama.

Ajang Piala Konfederasi pada awal-awal penyelenggaran sempat dipandang sebelah mata oleh sejumlah calon peserta. Keengganan Jerman dan Prancis menjadi contoh. Mereka menganggap turnamen yang mempertemukan juara-juara konfederasi tiu kalah mentereng dibandingkan dengan sejumlah laga uji coba menghadapi kekuatan tradisional yang tak diundang.

Akan tetapi seiring perbaikan yang dibuat FIFA, Piala Konfederasi tak lagi dipandang sebelah mata. Setidaknya sejak format baru diterapkan pada 2005. Oleh para peserta, Piala Konfederasi dijadikan persiapan utama menyongsong Piala Dunia yang akan berlangsung tahun berikutnya.

Demikian pula tahun ini. Spanyol selaku unggulan utama datang dengan kekuatan terbaik. Hal itu ditegaskan pelatih Vicente Del Bosque, "Kami akan berusaha meraih kondisi fisik dan mental terbaik. Pemain yang dipilih adalah yang kompetitif, yang tidak puas dengan apa yang terjadi sepanjang musim ini. Mereka tahu berpartisipasi di Piala Konfederasi sangatlah penting," ungkapnya.

Del Bosque juga tak meragukan motivasi para pemainya, meski ebberapa di antaranya sudah berhias gelar juara Piala Dunia dan Eropa, "Saya aykin tim ini sangat termotivasi. Saya pernah berbicara dengan salah satu pemain dan dia mengatakan, 'Coach, kami sungguh ingin menang'. Grup ini punyakeinginan kuat, bukan sebaliknya. Kami akan berusaha ada di kompetisi ini Juni dan juara," tambah pelatih yang sukses menyapu bersih trofi liga mayor level klub dan timnas itu.

Tekad untuk menjadi juara tidak hanya menjadi milik Del Bosque. Luiz Felipe Scolari juga demikian. Pelatih timnas Brasil itu tak mempermasalahkan hasil buruk pada sejumlah laga uji coba. "Segalanya butuh proses. Fokus utama saya adalah membentuk tim ini siap di Piala Konfederasi dan Piala Dunia."

Tanpa Beban

Sebagai ajang mengetes kemampuan. Kalimat kedua  Prandelli itu amat cocok untuk menggambarkan persiapan sejumlah tim yang dianggap sebagai underdogs. Tahiti misalnya, Tim asal Polinesia Prancis itu sadar diri bahwa statusnya hanya kurcaci di antara para raksasa sepak bola. Karena itulah, mereka akan tampil tanpa beban dan hanya mencoba berjuang semaksimal mungkin demi meraih hasil terbaik.

Bagi Jepang, yang satu grup dengan Brasil dan Italia, status tak diunggulkan  justru menghadirkan keuntungan. Menurut pelatih Alberto Zaccheroni, timnya justru senang menghadapi lawan ang lebih kuat. "Kami siap meladeni lawan yang lebih kuat dengan kecepatan dan umpan-umpan pendek. Kami bisa seperti bunglon yang bisa berganti pola ketika diserang dan menyerang," ungkap pelatih asal Italia itu.

Kejutan memang bukan hal tabu di Piala Konfederasi. Keberhasilan Jepang dan Kamerun lolos ke partai puncak pada 2001 dan 2003 menjadi buktinya. Potensi kejutan itulah yang membuat Piala Konfederasi tak kalah seru dibandingkan Piala Dunia dan Piala Eropa atau Copa America. Wajar apabila seluruh tim hadir dengan kekuatan terbaik.

Cikal Bakal Lahirnya Piala Konfederasi

Raja Fahd menjadi embrio turnamen yang mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai benua ini.

Cikal Bakal Lahirnya Piala Konfederasi

Sebagai kompetisi yang mempertemukan tim-tim terbaik dari tiap benua, Piala Konfederasi telah melalui perjalanan panjang untuk menjadi sebuah mini turnamen yang punya nilai tinggi. Dari sebuah turnamen yang digelar Raja Arab, kini sudah berubah menjadi turnamen yang punya gengsi cukup kuat.

Cikal bakal Piala KOnfederasi bisa dibilang sidah dimulai lebih dari 30 tahun lalu. Tepatnya saat berlangsung Mundialito atau sering disebut Copa de Oro de Campenones Mundialis di Uruguay pada 30 Desember 1980 hingga 10 Januari 1981.

Turnamen ini dilangsungkan untuk memperingati 50 tahun gelaran Piala Dunia. Uruguay yang menjad tuan rumah Piala Dunia pertama berinisiatif menggelar turnamen ini dengan mengundang sejumlah tim yang pernah menjuarai Piala Dunia.

Selain Uruguay, Italia, Jerman (Barat), Brasil, dan Argentina ikut meramaikan. Hanya Inggris yang menolak tampil. Posisinya digantikan Belanda yang menjadi runner up Piala Dunia 1974 dan 1978. Mundialito hanya berlangsung sekali tanpa ada kelanjutan dengan Uruguay sebagai juara dan Brasil di runner up.

Turnamen lain yang mempertemukan tim-tim terbaik dari benua berbeda dilangsungkan di Italia. Turnamen yang bertajuk Trofi Artemio Franchi ini mempertemukan juara Piala Eropa dan Juara Copa America. Dari dua kali gelaran (1985 dan 1993), Prancis dan Argentina sukses menjadi juara.

Fondasi Piala Konfederasi yang sesungguhnya lahir pada 1992. Adalah raja Arab Saudi saat itu, Fahd bin Abdulaziz Al Saud, berinisiatif menggelar turnamen yang mempertemukan tim-tim terbaik dari empat benua (Asia, Eropa, Afrika, Amerika Selatan).

Turnamen bernama Piala Raja Fahd inilah yang membuat FIFA menolehkan kepala. Piala Raja Fahd sempat dua kali digelar sebelum diambil alih FIFA pada 1997 dan berganti nama menjadi Piala Konfederasi.

Saat itu, Piala Konfederasi digelar setiap dua tahun. Namun sejak 2005, Piala Konfederasi dimainkan setiap empat tahun sekali. Pihak yang menjadi tuan rumah adalah negara yang akan menggelar Piala Dunia pada tahun berikutnya. Seperti yang dilakoni Brasil tahun ini sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014.

Menolak Tampil

Perjalanan Piala Konfederasi sejak dipegang langsung oleh FIFA tak selalu berjalan mulus. Sejumlah kendala pernah menyertai, seperti penolakn yang dilakukan beberapa tim untuk mengikuti turnamen yang menjadi agenda FIFA ini.

Jerman menjadi tim yang paling sering menolak berpartisipasi di Piala Konfederasi. Kejadian pertama saat Der Panzer baru saja sukses menjuara Piala Eropa 1996. Akibat penolakan Jerman, FIFA pun meminta Republik Cheska yang menjadi runner up Piala Eropa 1996 untuk mengisi kekosongan wakil Eropa di Piala Konfederasi 1997.

Penolakan Jerman yang kedua terjadi menjelang Piala Konfederasi 2003. Jerman yang saat itu berstatus runner up Piala Dunia 2002 memilih tidak berpartisipasi di Piala Konfederasi untuk mewakili benua Eropa. Sebab, Prancis kala itu berstatus tuan rumah bukan wakil benua. Posisi Der Panzer digantikan Turki yang meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2002.

Prancis juga pernah melakukan hal yang sama. Usai menjuarai Piala Dunia 1998, Les Bleus menolak untuk tampil di Piala Konfederasi 1999. Brasil yang menjadi runner up Piala Dunia 1998 dan juara Copa America 1997 ditunjuk sebagai pengganti Prancis.

Entah ada kaitannya dengan penolakan kedua tim tersebut, wakil-wakil Eropa kurang bisa berbicara lantang di Piala Konfederasi. Hanya Prancis dan Denmark yang pernah merengkuh juara. Prancis melakukannya pada 2001 dan 2003 sementara Denmark juara pada 1995.

Tim yang paling sering menjuarai Piala Konfederasi  adalah Brasil. maklum, dari enam gelaran Piala Konfederasi sejak 1997, Selecao hanya sekali absen pada 2003. Dari lima kesempatan yang diikuti, Brasil sukses menjadi Jawara pada 1997, 2005 dan 2009.

Tahun ini, untuk pertama kalinya Brasil menjadi tuan rumah Piala Konfederasi. Itu sekaligus memantapkan posisi mereka sebagai tim yang paling sering tampil di ajang empat tahunan itu. Brasil menjadi satu-satunya negara yang pernah tampil dalam enam Piala Konfederasi.

Stadion Tempat Piala Konfederasi Berlangsung

sepak bola brasil
Dari enam stadion, lima diantaranya berada di bagian timur laut hingga tenggara Brasil.

Sebanyak 12 stadion dipersiapkan Brasil untuk Piala Dunai 2014. Dari jumlah itu, hanya enam yang akan digunakan untuk Piala Konfederasi yang akan digelar Juni ini. Satu hal yang menarik, keenam stadion itu terletak di pantai timur Brasil. Hanya Estadio Nacional de Brasilia yang berada agak ke tengah.

Meski demikian, keenam stadion tidaklah sama. Mereka memiliki kisah tersenidiri. Ada Macarana yang sangat bersejarah, ada pula Arena Pernambuco yang sengaja dibangun untuk Piala Dunia 2014 dan baru dibuka pada 22 Mei lalu. Lalu ada juga Arena Fonte Nova yang dibangun di atas reruntuhan stadion lama dengan nama yang sama.

Berkaitan dengan kesiapan menggelar laga-laga Piala Konfederasi, stadion-stadion itu sempat bermasalah. Bahkan, tiga di antaranya, yakni Estadio Nacional de Brasillia, Arena Pernambuco, dan Estadio do Macarana selesai melewati  tenggat awal yang ditetapkan FIFA, yakni 15 April 2013 atau dua bulan jelang pembukaan Piala Konfederasi.

stadion Macarana
Stadion Macarana
Salah satu dari tiga stadion yang berhasil diselesaikan sesuai tenggat, Arena Fonte Nova, pun tak lepas dari masalah. Pada akhir Mei, 36 panel listrik yang dibentangkan di atas tribun stadion sobek karena tak mampu menahan guyuran hujan deras yang melanda bagian timur laut kota Salvador.

Meski tidak terlalu besar, masalah seperti itu merupakan ujian terhadap kesiapan Brasil. maklum, sebelumnya Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengungkapkan keyakinannya. "Keenam stadion ini menunjukkan bahwa orang-orang Brasil memiliki determinasi, kapasitas dan kompetensi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia terbaik sepanjang masa," kata dia.

Sudah barang tentu, andai masalah serupa terulang, keraguan publik sepak bola dunia terhadap kesiapan Brasil untuk tahun depan akan kembali menyeruak.

Stadion  Arena Fonte Nova
Stadion  Arena Fonte Nova


Arena Pernambuco
Stadion Arena Pernambuco



Sepak Bola Brasil: Antara Tari Dan Olah Bola

goyang samba sepak bola brasil
Agar tak mendapat hukuman, pemain Brasil berkulit hitam harus pandai bergoyang.

Dalam bukunya, Futebol, The Brazilian Way of Life, Alex Bellos menceritakan perkembangan sepak bola di Brasil sangat dahsyat. Ada beberapa hal yang membuat masyarakat di sana begitu menggilai olah raga satu ini, bahkan sudah muncul sejak anak-anak. Menurut Bellos, awalnya banyak uang menyeut sepak bola begitu mendunia di Brasil karena merupakan olah raga paling murah.

Bukannya apa-apa, tingkat kemiskinan di negara berpenduduk sekitar 183 juta jiwa itu cukup tinggi. itu meliputi kurangnya perawatan medis, sulitnya fasilitas air bersih dan sanitasi. Bahkan sudah menjalar ke akses pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan. Sepak bola jelas olah raga yang cukup murah. Hanya membutuhkan satu bola dan bisa dimainkan banyak orang. Tempatnya pun bisa di mana saja. Bisa di gang rumah, sepanjang jalan atau pantai.

Berdasar itu, hampir semua kaki anak-anak di Brasil tak bisa berjauhan dari bola. Terlebih, dari sepak bola, bisa meningkatkan status sosial mereka. Para orang tua sudah menanamkan dalam diri anak-anaknya agar tak terlalu rajin belajar. Cukup dengan pintar sepak bola sudah bisa hidup. Ya, sepak bola dianggap sebagai jalan untuk memperbaiki taraf hidup.

Hanya itukah? Tidak. Dalam bukunya, Bellos menceritakan orang-orang di Brasil menggemari sepak bola karena cinta. Tanpa satu kata itu, Brasil tak akan mendewakan sepak bola. Benar, Brasil begitu mencintai sepak bola. Sebaliknya, sepak bola juga mencintai Brasil.Faktanya, Brasil sebagai satu-satunya negara yang belum pernah absen dalam setiap gelaran Piala Dunia sejak 1930. Mereka juga yang paing sering menjadi juara, sebanyak lima kali (1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002).

Kecintaan anak-anak Brasil pada sepak bola sejak dini dikagumi penyerang timnas Inggris, Jermain Defoe. Jelang laga persahabatan Brasil kontra Inggris (2/6), dia tercengang dengan anak-anak Brasil yang piawai bermain sepak bola sejak dini. Mereka disebutnya memiliki keterampilan dan teknik yang lebih baik dari pemain profesional di Inggris. Saat itu Defoe dan Theo Walcott didaulat mengisi sebauah acara amal bertajuk Bola Pra Frente di Rio de Jeneiro.

"Brasil tak kekurangan pemain berbakat karena sepak bola sudaj menjadi makanan sehari-hari sejak anak-anak," tutur Defoe kepada The Sun.

Budaya Tari

Dis sisi lain, ketenaran sepak bola Brasil tak lepas dari ciri khas permainan mereka. Bahkan berkat itu, mereka bisa menguasai dunia. Timnas Brasil dijuluki Tim Samba karena gaya pemain saat mengolah bola mirip seperti sedang bergoyang tari Samba. Menurut sosiolog asal Brasil, Gilberto de Mello Freyre, dalam tulisan di bukunya, The Masters And Slaves: A Study in The Development of Brazilian Civilization, masyarakat Brasil memiliki banyak ritus untuk memuja kesenangan duniawi. Salah satunya Samba. Oleh kareanya, Brasil memiliki agenda tahunan karnaval di Rio de Jeneiro sebagai wujud kekayaan seni tari mereka.

Lantas kapan masuknya gaya Samba ke sepak bola? Seperti halnya tari Samba yang berakar dari orang-orang kulit Afrika, Brasil pun tak lepas dari orang-orang kulit hitam yang merupakan golongan budak. Memang, perbudakan di Brasil telah dihapus sejak lama. Tapi anggapan orang kulit hitam lebih rendah kedudukannya dari orang kulit putih masih ada kala itu. Di sepak bola, pemain kulit hitam dilarang bersentuhan dengan pemain kulit putih. Andai terjadi, maka akan mendapat hukuman, yakni dipukul atau ditendang.

Oleh karenanya, agar tak 'dianiaya', para pemain kulit hitam Brasil lalu menciptakan gerakan tipuan untuk menghindar dari kontak fisik. Ternyata mereka mengaplikasikan seni tari yang dikuasai ke lapangan hijau. Pada akhirnya pemain Brasil berkulit hitam menggunakan kemampuan tarinya dalam bermain sepak bola.

Faktanya itu sangat berguna untuk menghindari terjangan lawan. Seiring perkembangan zaman, semua pemain Brasil pun berusaha untuk menggabungkan seni tari dan olah bola di lapangan. Karena tari  yang paling dikenal di Brasil  adalah Samba, maka goyangan di lapangan disebut goyang Samba.

Sejarah Sepak Bola Brasil

Sejarah Sepak Bola Brasil
Sepak bola sampai di Brasil tak terlepas dari peran Charles Miller seusai menimba ilmu di Banisters School, Southampton.

Pelabuhan Santos, suatu hari pada 1894. Seorang pria tampak geliasah. Dia adalah John Miller, ekspatriat yang bekerja membuat rangkaian rel kereta api di So Paolo. Hari itu, dia menantikan si anak, Charles Miller, yang usai menimbal ilmu di negeri leluhurnya, Inggris, tepatnya Southampton. Dia berharap sang anak turun dengan ijazah hasil pendidikannya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya John ketika melihat Charles menuruni tangga kapal dan tiba di hadapannya. Charles menenteng dua buah bola sepak. Datu di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri. "Charles, apa itu?" tanya John seketika. Sang anak dengan ringan menjawab, "Ini diplomaku, ayah." Aku lulus dari pendidikan sepak bola."

Penggalan cerita itulah yang tersurat dalam buku Futebol, The Brazilian Way of Life ketika sang penulis, Alex Bellos, berkisah tentang awal mula kedatangan sepak bola Brasil. Seperti di negara-negara lain, sepak bola memang datang ke negeri Samba lewat orang Britania Raya. Bedanya, Charles Miller sebenarnya orang Brasil. Ayahnya, John, berasal dari Inggris. Sementara sang ibu asli dari Brasil.

Pada 1884, John sengaja mengirim Charles yang kala itu berumur 10 tahun ke Inggris. Maksudnya agar Charles mendapat pendidikan yang baik tentang segala hal. Di Bannisters School, Charles mendapatkan itu semua. Namun selain itu, di sana pula ia mengenal sepak bola dan menjadi pemain ulung hingga mendapat kesempatan bergabung dengan St. Mary's, klub yang menjadi cikal bakal Southampton sekarang.

Sejarah itu mendapat pertentangan dari Richard McBrearty, kurator dari museum sepak bola Skotlandia. Pada 2011 dia menemukan fakta bahwa Thomas Donohue, ekspatriat asal Skotlandia, yang membawa sepak bola ke Brasil saat bekerja di pabrik tekstil di Bangu, Rio De Jeneiro pada 1893. Enam bulan sebelum Miller membentuk klub So Paolo, tepatnya di suatu minggu pada April 1894, pertandingan sepak bola pertama digelar dengan satu tim hanya berisi lima pemain.

"Miller memang figur penting, tetapi seharusnya Donohue juga dihargai sebagai orang yang mengenalkan sepak bola di Brasil dan kepada orang-orang miskin yang lantas menjaga permainan itu tetap hidup," terang MvBrearty seperti dikutip Herald Scotland pada 24 Maret 2011.

Kontribusi Imigran

Terlepas dari kontroversi soal Miller dan Donohue, satu hal yang pasti, sejarah awal sepak bola Brasil tak bisa dilepaskan dari peran ekspatriat. Selain Miller dan Donohue, ada sosok-sosok lain yang memegang peranan penting, diantaranya adalah Oscar Cox dan Hans Nobiling.

Jika Miller menjadi sosok sentral perkembangan sepak bola Sao Paolo dengan mendirikan klub di sana dan lantas menggelar kompetisi di wilayah itu pada 1902, Cox berkontribusi besar di Rio de Jeneiro. Seperti Miller, Cox juga Anglo Brazilian. Namun dia mengenal sepak bola saat menimba ilmu di Laussane, Swiss. Setelah mengenalkan sepak bola pada 1901, Cox mendirikan Fluminense bersama 19 rekannya.

Sementara itu, Nobiling yang berasal dari Jerman berkontribusi dalam mengenalkan peraturan sepak bola. Pada 1897, Nobiling yang pernah membela tim junior SC 1887 Germania, cikal bakal Hamburger SV, membawa peraturan sepak bola yang berlaku di klubnya ke Brasil. Lalu dia mendirikan SC Internacional setelah ditampik Sao Paolo.

Mengingat pengaruh sangat besar dari ekspatriat dari Eropa, sepak bola di Brasil pada awalnya hanya berkembang di kalangan eknomi atas yang didominasi orang-orang berkulit putih. Orang-orang kulit hitam hanya bisa menonton, itu pun dari atap rumah dengan mencuri-curi. Namun, pada akhirnya mereka bisa bergabung juga. Bangu Athletic Club, klub yang didirikan Donohue, tercatat sebagai pionir dalam hal ini.

Itu menjadi tonggak tersendiri. Pasalnya, seperti diakui Belo dan ditegaskan McBrearty, hanya dengan keterlibatan orang kulit hitamlah sepek bola menjadi budaya di Brasil. Bahkan sejarah mencatat, superstar pertama adalah peranakan kulit hitam. Dia adalah Artur Friedenreich dan wanita Brasil berkulit hitam, Mathilde.

Friedenreich memulai kiprahnya di klub pecahan dari Internacional, SC Germania, pada 1909. Sebuah catatan menyatakan dialah orang yang lebih dulu membukukan lebih dari 1000 gol dibanding Pele. Sayangnya, Friedenreich tak sempat mendunia. Pada 1930, dia gagal bermain di Piala Dunia karena timnas Brasil hanya boleh diisi pemain-pemain asal Rio de Jeneiro, sementara dia tinggal di Sao Paolo.

Piala Konfederasi: Taruhan Nama Bagi Brasil

Brasil
Brasil menjadikan Piala Konfederasi 2013 sebagai pembuktian kekuatan menjelang Piala Dunia 2014. Misi yang tidak mudah karena Spanyol bisa merecoki.

Pada akhir era 1990-an hingga awal 2000-an, sepak bola Brasil tengah berada di masa keemasan. Titel juara piala Dunia 2002 serta tiga trofi Copa America pada 1997, 1999 serta 2004 menjadi bukti kesuksesan. Tak ayal, Brasil disebut-sebut sebagai kiblat sepak bola.

Akan tetapi belakangan sebutan itu meulai pudar seiring penuirunan prestasi Selecao. Sejak meraih trofi Piala Konfederasi 2009, tidak ada lagi gelar jawara yang direbut Brasil. Sialnya, pada saat yang bersamaan, Spanyol ganti melejit. Secara berturut-turut, La Furia Roja menyabet titel Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Sukses itu diiringi dengan pergeseran persepsi tentang timnas terbaik di muka bumi. Kini, Spanyol yang berhak mendapat predikat sebagai timnas terkuat, menggeser Selecao.

Kenyataan tersebut tentu tidak mengenakkan bagi Brasil. Oleh karena itu, Piala Konfederasi 2013 bisa menjadi ajang yang tepat bagi Selcao untuk bangkit. Apalagi Selcao terbukti memiliki catatan apik di Piala konfederasi. Hingga kini, koleksi tiga trofi juara Piala Konfederasi yang diraih Selecao pada 1997, 2005, 2009 belum bisa disaingi tim manapun.

Akan tetapi resiko juga menyertai kiprah Neymar dkk di Piala Konfederasi 2013. Andai gagal meraih sukses, reputasi mereka bakal semakin tenggelam. Selain itu moril pemain rawan terpukul. Kondisi itu jelas tidak edeal untuk menyambut Piala Dunia 2014 yang bakal digelar di negeri sendiri.

Brasil bukanlah kandidat jawa utama. Eks bintang Selecao, Ronaldo malah menjagokan Spanyol. "Sekarang Spanyol adalah favorit juara. Mereka adalah raja Eropa dan dunia," kata dia.

La Furia Roja juga menyadari status favorit yang mereka sandang. Namun, itu bukannya membebani. Spanyol justru makin bersemangat meraih sukses. "Sungguh menyenangkan bisa hadir di turnamen yang belum pernah kami menangi. Khusus bagiku, aku sangat senang bisa tergabung dalam tim. Kami melihat ke depan, kami berharap menjadi tim terakhir yang bertahan di turnamen dan pulang membawa trofi," tutur  striker Fernando Torres.

Spanyol punya modal besar. Basis kekuatan mereka masih solid. Berbeda dengan Brasil. Menjelang turnamen, performa Selecao belum stabil. Sebelum menang atas Prancis pada Minggu (9/6), Brasil ditahan seri oleh Inggris pada laga persahabatan pada Senin (3/6) di stadion Maracana.

Hasil imbang tentu tidak memuaskan. Tapi Brasil tidak kecil hati. "Kami makin mengenal satu sama lain. Kami semakin tahu pergerakan dan posisi rekan-rekan kami. Pada babak pertama terlihat jelas kami melakukan sentuhan satu dua. Kami bakal bertambah baik," kata Neymar.

Tiada korelasi

Brasil memang berambisi meraih sukses di Piala Konfederasi  2013. Mereka memandang ajang ini sebagai momen untuk menakar kekuatan demi persiapan ke Piala Dunia 2014. Karena dilangsungkan di negeri sendiri, Selecao tak mau kehilangan muka.

Akan tetapi seharusnya Selecao tidak terlalu mementingkan hasil. Terpenting bagi mereka adalah menemukan fondasi  yang lebih tepat bagi Piala Dunia 2014. Pasalnya tidak ada korelasi antara sukses di Piala Konfederasi dan keberhasilan di Piala Dunia.

Contoh nyata bisa dilihat dari tiga keberhasilan Selecao di Piala Konfederasi. Pada 1997, mereka menjadi jawara. Namun di Piala Dunia 1998, Selecao harus puas finis sebagai runner up. Piala Konfederasi 2005 memperlihatkan gejala serupa. Selecao meraih trofi juara, tetapi mereka malah terhenti di perempat final Piala Dunia Piala Dunia 2006. Pencapaian serupa diukir pada Piala Dunia 2010, padahal Selecai menjuarai Piala Konfederasi 2009.

Oleh karena itu, lebih penting bagi Selecao untuk bermain lepas. Piala Konfederasi 2013 bukan segala-galanya.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: antoniachekov@gmail.com

Our Team Memebers