Tampilkan postingan dengan label Brasil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brasil. Tampilkan semua postingan

14 Juni 2013

Piala Konfederasi Sebagai Lahan Uji Coba Neymar

Neymar
Diantara pemain-pemain yang dipersiapkan Brasil untuk ajang Piala Konfederasi 2013, nama Neymar da Silva Santos Junior merupakan yang paling mencuri perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, pemain berusia 21 tahun itu tak hanya menjadi fenomena di negaranya, tapi juga seantero dunia.

Banyak penggemar sepak bola yang penasaran terhadap aksi-aksinya. Maklum, kiprah Neymar bersama Santos belum terlalu terekspos. Sebab, tidak banyak negara menyiarkan kompetisi sepak bola Brasil.

Di level internasional, kiprah Neymar bersama timnas Brasil juga tidak terlalu menonjol. Tahun lalu, dia gagal membawa negaranya tampil sebagai juara Olimpiade 2012. Setelah itu, dia hanya tampil di laga sekelas uji coba internasional. Sebab, sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, Brasil tidak mengikuti kualifikasi.

Oleh karena itu, Piala Konfederasi 2013 menjadi saat yang tepat untuk Neymar unjuk gigi. Apalagi dia akan bersua tim-tim kuat. "Neymar merupakan pemain yang luar biasa. Piala Konfederasi akan menjadi panggung ideal baginya untuk unjuk gigi. Dia memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk menunjukkan  kemampuannya ke hadapan dunia," puji presiden FIFA Sepp Blatter.

Apabila mampu tampil bagus dan membawa negaranya berjaya, keraguan terhadap dirinya akan sirna. Ini sekaligus menjadi bekal baginya sebelum menjajal kompetisi Eropa bersama Barcelona musim depan.

"Aku sangat senang bisa bermain di klub yang diisi pemain-pemain terbaik dunia," ujar Neymar. "Tapi saat ini aku hanya fokus di Piala Konfederasi. Hal terpenting saat ini adalah meraih gelar bersama Brasil."

Olah Bola Ala Joga Bonito

tim selecao brasil
Tanpa mengandalkan joga bonito, Selecao tetap berpotensi meraih prestasi.

Jelang Piala Konfederasi 2013, keraguan menyelimuti tim tuan rumah Brasil. Pasalnya selain meraih hasil kurang memuaskan dalam beberapa laga uji coba terakhir, Tim Samba juga belum menunjukkan permainan seperti yang diharapkan kebanyakan publik sepak bola negeri ini.

Dalam enam laga terakhir, Brasil hanya memetik dua kemenangan. Itu diraih saat menjamu Bolivia, salah satu tim terlemah di Amerika Selatan, serta raksasa Eropa yang tengah menurun, Prancis. Sisa empat laga lainnya berakhir imbang. Hasil seri tersebut dperoleh saat menghadapi Italia yang berkesudahan 2-2, Rusia 1-1, Cile 2-2 dan Inggris 2-2.

Selain itu harapan publik sepek bola Brasil menyaksikan timnya sendiri bermain cantik pun belum terwujud. Di bawah pelatih Luiz Felipe Scolari, tak tampak gaya permainan khas Brasil yang dikenal dengan joga bonito. Padahal di Brasil bermain cantik sama pentingnya dengan meraih kemenangan dan trofi juara.

"Brasil terlihat seperti kumpulan pemain yang berlari ke sana ke mari tanpa arah. Ini gila. Mereka memang menunjukkan kemauan, tapi terlalu banyak berlari. Tim ini memandang kolektivitas sebagai hal penting. Tak ada tempat bagi pemain dengan kemampuan istimewa. Tapi, Selecao tanpa gaya tentu mengherankan," kritik Rivelino, anggota Selecao kala menjuarai Piala Dunia 1970 Meksiko.

Menghilangnya gaya permainan indah Brasil di bawah penanganan Scolari sebenarnya bukan hal yang aneh. Pelatih berusia 64 tahun itu memang bukan penganut filosofi joga bonito. Dia lebih mengutamakan disiplin dan kolektivitas sebagai kunci permainan utamanya.

Di satu sisi, ini membuat permainan timnas Brasil menjadi kurang menghibur. Tapi cara ini terbukti ampuh untuk mendatangkan prestas. Di perhelatan Piala Dunia 2002, Scolari sanggup membawa tim Samba tampil sebagai juara sekaligus membungkam kritik yang sempat menerjangnya.

Sama seperti kala itu, kini pun satu-satunya cara untuk membungkam kritik adalah meraih trofi Piala Konfederasi . Gelar ajang ini akan membuat publik Brasil  percaya terhadap kemampuan sang pelatih dan timnasnya. Selain itu, kepercayaan diri pemain untuk menghadapi Piala Dunia tahun depan  semakin meningkat.

"Kami (pemain) adalah orang-orang yang paling menyadari pentingnya kemenangan untuk Brasil. Kami tidak bisa terus meraih hasil imbang dan bermain bagus tanpa meraih hasil optimal. Kini, yang kami butuhkan hanya menang agar semua bisa menjadi sempurna," ujar defender Daniel Alves.

Kutukan Juara

Pencapaian di Piala Konfederasi akan menjadi tolok ukur bagi timnas Brasil di Piala Dunia. Pasalnya, Tim Samba akan menghadapi lawan-lawan keras di babak penyisihan Grup A seperti Jepang, Italia, dan Meksiko. Jadi untuk sekadar meraih satu tiket ke semifinal bukan perkara gampang.

"Hasil undian menarik. Tim-tim di grup kami sangat seimbang. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk melihat potensi kami saat menghadapi lawan-lawan tersebut," ujar Scolari.

Untuk bisa lolos dari hadangan tim-tim tersebut, pelatih yang kerap disapa Felipao itu meminta pemainnya untuk selalu tampil sempurna. Menurutnya, "Grup ini tidak memberi kami kesempatan untuk membuat kesalahan. Menghadapi tim sekelas Italia, Meksiko dan Jepang merupakan ujian bagus.Tapi bagi kami, Piala Konfederasi tidak lebih dari sebuah ajang percobaan."

Ini menunjukkan bahwa target utama Scolari bukanlah Piala Konfederasi. Sebab dari segi gengsi, trofi Piala Dunia jauh lebih besar. Piala Konfederasi selama ini dipandang sebelah mata oleh banyak tim. Ada beberapa yang bahkan menolak tampil di sana: apalagi fakta membuktikan bahwa bagi Brasil keberhasilan meraih gelar juara Piala Konfederasi tidak selalu berujung kesuksesan di Piala Dunia.

Toh, meski hanya sasaran antar, anak-anak asuh Felipao tetap tak bisa memandang sebelah mata ajang ini. Bagaimanapun  akan lebih baik melangkah ke Piala Dunia dengan predikat juara Piala Konfederasi. Selain membuat para pemain dan publik lebih optimis, itu juga akan membuat para lawan menjadi lebih takut kala menghadapi mereka.

Sebaliknya, kegagalan di Piala Konfederasi tentu bisa berdampak buruk saat menjalani Piala Dunia karena tim-tim lain jadi punya kepercayaan diri lebih tinggi bila menghadapi mereka. Apalagi kalau Piala Konfederasi ini Selecao tak mendulang kemenangan mengesankan.

BRASIL

Status: Tuan rumah Piala Dunia 2014
Kepastian lolos: 30 Oktober 2007
Tampil: 1997, 1999, 2001, 2003, 2005, 2009
Rekor: 18 menang, 5 seri, 5 kalah
Prestasi terbaik: Juara (1997, 2005, 2009)

Scolari: Tak Silau Pemain Bintang

 Luiz Felipe Scolari
Sosok Luiz Felipe Scolari kerap menuai kontroversi di Brasil. Maklum, sebagai pelatih, dia sering membuat keputusan yang bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Saat kebanyakan pelatih terpaku dengan gaya bermain joga bonito yang lekat dengan aksi individu pemain, dia mengedepankan kolektivitas dan disiplin.

Penerapan gaya bermain ini berimbas pada pemain bintang. Mereka tidak bisa seenaknya measuk ke dalam skuad Selecao. Jika tidak mau bekerja keras untuk tim dan berbaur dalam skema permainan, jangan harap Scolari akan memanggilnya.

Saat menangani Brasil di ajang Piala Dunia 2002, Scolari meninggalkan  Romario  Faria. Padahal publik berharap pahlawan tim Samba di Piala Dunia 1994 ini masuk ke dalam tim karena produktif di klubnya, Vasco da Gama. Namun Scolari bersikeras tidak membawa Romario karena karakternya tidak sesuai dengan permainan tim Samba.

Hal serupa kembali terjadi di Piala Konfederasi 2013. Ketimbang memanggil Kaka, Ramires, Ronaldinho atau Alexandre Pato, pria yang akrab disapa Felipao ini memilih memberdayakan pemain yang masih asing di telinga seperti Fernando, Paulinho, Rever, Jean dan Bernard.

Toh Putusan tidak memanggil pemain bintang ada baiknya. Tanpa sosok yang menonjol di dalam tim, kebersamaan pemain pemain bisa lebih terjaga. Dengan begitu potensi terjadinya riak yang bisa merusak harmoni tim semakin kecil.

"Sebagai pelatih, saya mengharapkan pemain yang bisa berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi di Piala Konfederasi, kami tidak memiliki banyak waktu untuk menyatukan pemain," ujar Scolari.

Stadion Tempat Piala Konfederasi Berlangsung

sepak bola brasil
Dari enam stadion, lima diantaranya berada di bagian timur laut hingga tenggara Brasil.

Sebanyak 12 stadion dipersiapkan Brasil untuk Piala Dunai 2014. Dari jumlah itu, hanya enam yang akan digunakan untuk Piala Konfederasi yang akan digelar Juni ini. Satu hal yang menarik, keenam stadion itu terletak di pantai timur Brasil. Hanya Estadio Nacional de Brasilia yang berada agak ke tengah.

Meski demikian, keenam stadion tidaklah sama. Mereka memiliki kisah tersenidiri. Ada Macarana yang sangat bersejarah, ada pula Arena Pernambuco yang sengaja dibangun untuk Piala Dunia 2014 dan baru dibuka pada 22 Mei lalu. Lalu ada juga Arena Fonte Nova yang dibangun di atas reruntuhan stadion lama dengan nama yang sama.

Berkaitan dengan kesiapan menggelar laga-laga Piala Konfederasi, stadion-stadion itu sempat bermasalah. Bahkan, tiga di antaranya, yakni Estadio Nacional de Brasillia, Arena Pernambuco, dan Estadio do Macarana selesai melewati  tenggat awal yang ditetapkan FIFA, yakni 15 April 2013 atau dua bulan jelang pembukaan Piala Konfederasi.

stadion Macarana
Stadion Macarana
Salah satu dari tiga stadion yang berhasil diselesaikan sesuai tenggat, Arena Fonte Nova, pun tak lepas dari masalah. Pada akhir Mei, 36 panel listrik yang dibentangkan di atas tribun stadion sobek karena tak mampu menahan guyuran hujan deras yang melanda bagian timur laut kota Salvador.

Meski tidak terlalu besar, masalah seperti itu merupakan ujian terhadap kesiapan Brasil. maklum, sebelumnya Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengungkapkan keyakinannya. "Keenam stadion ini menunjukkan bahwa orang-orang Brasil memiliki determinasi, kapasitas dan kompetensi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia terbaik sepanjang masa," kata dia.

Sudah barang tentu, andai masalah serupa terulang, keraguan publik sepak bola dunia terhadap kesiapan Brasil untuk tahun depan akan kembali menyeruak.

Stadion  Arena Fonte Nova
Stadion  Arena Fonte Nova


Arena Pernambuco
Stadion Arena Pernambuco



Sepak Bola Brasil: Antara Tari Dan Olah Bola

goyang samba sepak bola brasil
Agar tak mendapat hukuman, pemain Brasil berkulit hitam harus pandai bergoyang.

Dalam bukunya, Futebol, The Brazilian Way of Life, Alex Bellos menceritakan perkembangan sepak bola di Brasil sangat dahsyat. Ada beberapa hal yang membuat masyarakat di sana begitu menggilai olah raga satu ini, bahkan sudah muncul sejak anak-anak. Menurut Bellos, awalnya banyak uang menyeut sepak bola begitu mendunia di Brasil karena merupakan olah raga paling murah.

Bukannya apa-apa, tingkat kemiskinan di negara berpenduduk sekitar 183 juta jiwa itu cukup tinggi. itu meliputi kurangnya perawatan medis, sulitnya fasilitas air bersih dan sanitasi. Bahkan sudah menjalar ke akses pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan. Sepak bola jelas olah raga yang cukup murah. Hanya membutuhkan satu bola dan bisa dimainkan banyak orang. Tempatnya pun bisa di mana saja. Bisa di gang rumah, sepanjang jalan atau pantai.

Berdasar itu, hampir semua kaki anak-anak di Brasil tak bisa berjauhan dari bola. Terlebih, dari sepak bola, bisa meningkatkan status sosial mereka. Para orang tua sudah menanamkan dalam diri anak-anaknya agar tak terlalu rajin belajar. Cukup dengan pintar sepak bola sudah bisa hidup. Ya, sepak bola dianggap sebagai jalan untuk memperbaiki taraf hidup.

Hanya itukah? Tidak. Dalam bukunya, Bellos menceritakan orang-orang di Brasil menggemari sepak bola karena cinta. Tanpa satu kata itu, Brasil tak akan mendewakan sepak bola. Benar, Brasil begitu mencintai sepak bola. Sebaliknya, sepak bola juga mencintai Brasil.Faktanya, Brasil sebagai satu-satunya negara yang belum pernah absen dalam setiap gelaran Piala Dunia sejak 1930. Mereka juga yang paing sering menjadi juara, sebanyak lima kali (1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002).

Kecintaan anak-anak Brasil pada sepak bola sejak dini dikagumi penyerang timnas Inggris, Jermain Defoe. Jelang laga persahabatan Brasil kontra Inggris (2/6), dia tercengang dengan anak-anak Brasil yang piawai bermain sepak bola sejak dini. Mereka disebutnya memiliki keterampilan dan teknik yang lebih baik dari pemain profesional di Inggris. Saat itu Defoe dan Theo Walcott didaulat mengisi sebauah acara amal bertajuk Bola Pra Frente di Rio de Jeneiro.

"Brasil tak kekurangan pemain berbakat karena sepak bola sudaj menjadi makanan sehari-hari sejak anak-anak," tutur Defoe kepada The Sun.

Budaya Tari

Dis sisi lain, ketenaran sepak bola Brasil tak lepas dari ciri khas permainan mereka. Bahkan berkat itu, mereka bisa menguasai dunia. Timnas Brasil dijuluki Tim Samba karena gaya pemain saat mengolah bola mirip seperti sedang bergoyang tari Samba. Menurut sosiolog asal Brasil, Gilberto de Mello Freyre, dalam tulisan di bukunya, The Masters And Slaves: A Study in The Development of Brazilian Civilization, masyarakat Brasil memiliki banyak ritus untuk memuja kesenangan duniawi. Salah satunya Samba. Oleh kareanya, Brasil memiliki agenda tahunan karnaval di Rio de Jeneiro sebagai wujud kekayaan seni tari mereka.

Lantas kapan masuknya gaya Samba ke sepak bola? Seperti halnya tari Samba yang berakar dari orang-orang kulit Afrika, Brasil pun tak lepas dari orang-orang kulit hitam yang merupakan golongan budak. Memang, perbudakan di Brasil telah dihapus sejak lama. Tapi anggapan orang kulit hitam lebih rendah kedudukannya dari orang kulit putih masih ada kala itu. Di sepak bola, pemain kulit hitam dilarang bersentuhan dengan pemain kulit putih. Andai terjadi, maka akan mendapat hukuman, yakni dipukul atau ditendang.

Oleh karenanya, agar tak 'dianiaya', para pemain kulit hitam Brasil lalu menciptakan gerakan tipuan untuk menghindar dari kontak fisik. Ternyata mereka mengaplikasikan seni tari yang dikuasai ke lapangan hijau. Pada akhirnya pemain Brasil berkulit hitam menggunakan kemampuan tarinya dalam bermain sepak bola.

Faktanya itu sangat berguna untuk menghindari terjangan lawan. Seiring perkembangan zaman, semua pemain Brasil pun berusaha untuk menggabungkan seni tari dan olah bola di lapangan. Karena tari  yang paling dikenal di Brasil  adalah Samba, maka goyangan di lapangan disebut goyang Samba.

Sejarah Sepak Bola Brasil

Sejarah Sepak Bola Brasil
Sepak bola sampai di Brasil tak terlepas dari peran Charles Miller seusai menimba ilmu di Banisters School, Southampton.

Pelabuhan Santos, suatu hari pada 1894. Seorang pria tampak geliasah. Dia adalah John Miller, ekspatriat yang bekerja membuat rangkaian rel kereta api di So Paolo. Hari itu, dia menantikan si anak, Charles Miller, yang usai menimbal ilmu di negeri leluhurnya, Inggris, tepatnya Southampton. Dia berharap sang anak turun dengan ijazah hasil pendidikannya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya John ketika melihat Charles menuruni tangga kapal dan tiba di hadapannya. Charles menenteng dua buah bola sepak. Datu di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri. "Charles, apa itu?" tanya John seketika. Sang anak dengan ringan menjawab, "Ini diplomaku, ayah." Aku lulus dari pendidikan sepak bola."

Penggalan cerita itulah yang tersurat dalam buku Futebol, The Brazilian Way of Life ketika sang penulis, Alex Bellos, berkisah tentang awal mula kedatangan sepak bola Brasil. Seperti di negara-negara lain, sepak bola memang datang ke negeri Samba lewat orang Britania Raya. Bedanya, Charles Miller sebenarnya orang Brasil. Ayahnya, John, berasal dari Inggris. Sementara sang ibu asli dari Brasil.

Pada 1884, John sengaja mengirim Charles yang kala itu berumur 10 tahun ke Inggris. Maksudnya agar Charles mendapat pendidikan yang baik tentang segala hal. Di Bannisters School, Charles mendapatkan itu semua. Namun selain itu, di sana pula ia mengenal sepak bola dan menjadi pemain ulung hingga mendapat kesempatan bergabung dengan St. Mary's, klub yang menjadi cikal bakal Southampton sekarang.

Sejarah itu mendapat pertentangan dari Richard McBrearty, kurator dari museum sepak bola Skotlandia. Pada 2011 dia menemukan fakta bahwa Thomas Donohue, ekspatriat asal Skotlandia, yang membawa sepak bola ke Brasil saat bekerja di pabrik tekstil di Bangu, Rio De Jeneiro pada 1893. Enam bulan sebelum Miller membentuk klub So Paolo, tepatnya di suatu minggu pada April 1894, pertandingan sepak bola pertama digelar dengan satu tim hanya berisi lima pemain.

"Miller memang figur penting, tetapi seharusnya Donohue juga dihargai sebagai orang yang mengenalkan sepak bola di Brasil dan kepada orang-orang miskin yang lantas menjaga permainan itu tetap hidup," terang MvBrearty seperti dikutip Herald Scotland pada 24 Maret 2011.

Kontribusi Imigran

Terlepas dari kontroversi soal Miller dan Donohue, satu hal yang pasti, sejarah awal sepak bola Brasil tak bisa dilepaskan dari peran ekspatriat. Selain Miller dan Donohue, ada sosok-sosok lain yang memegang peranan penting, diantaranya adalah Oscar Cox dan Hans Nobiling.

Jika Miller menjadi sosok sentral perkembangan sepak bola Sao Paolo dengan mendirikan klub di sana dan lantas menggelar kompetisi di wilayah itu pada 1902, Cox berkontribusi besar di Rio de Jeneiro. Seperti Miller, Cox juga Anglo Brazilian. Namun dia mengenal sepak bola saat menimba ilmu di Laussane, Swiss. Setelah mengenalkan sepak bola pada 1901, Cox mendirikan Fluminense bersama 19 rekannya.

Sementara itu, Nobiling yang berasal dari Jerman berkontribusi dalam mengenalkan peraturan sepak bola. Pada 1897, Nobiling yang pernah membela tim junior SC 1887 Germania, cikal bakal Hamburger SV, membawa peraturan sepak bola yang berlaku di klubnya ke Brasil. Lalu dia mendirikan SC Internacional setelah ditampik Sao Paolo.

Mengingat pengaruh sangat besar dari ekspatriat dari Eropa, sepak bola di Brasil pada awalnya hanya berkembang di kalangan eknomi atas yang didominasi orang-orang berkulit putih. Orang-orang kulit hitam hanya bisa menonton, itu pun dari atap rumah dengan mencuri-curi. Namun, pada akhirnya mereka bisa bergabung juga. Bangu Athletic Club, klub yang didirikan Donohue, tercatat sebagai pionir dalam hal ini.

Itu menjadi tonggak tersendiri. Pasalnya, seperti diakui Belo dan ditegaskan McBrearty, hanya dengan keterlibatan orang kulit hitamlah sepek bola menjadi budaya di Brasil. Bahkan sejarah mencatat, superstar pertama adalah peranakan kulit hitam. Dia adalah Artur Friedenreich dan wanita Brasil berkulit hitam, Mathilde.

Friedenreich memulai kiprahnya di klub pecahan dari Internacional, SC Germania, pada 1909. Sebuah catatan menyatakan dialah orang yang lebih dulu membukukan lebih dari 1000 gol dibanding Pele. Sayangnya, Friedenreich tak sempat mendunia. Pada 1930, dia gagal bermain di Piala Dunia karena timnas Brasil hanya boleh diisi pemain-pemain asal Rio de Jeneiro, sementara dia tinggal di Sao Paolo.

Piala Konfederasi: Taruhan Nama Bagi Brasil

Brasil
Brasil menjadikan Piala Konfederasi 2013 sebagai pembuktian kekuatan menjelang Piala Dunia 2014. Misi yang tidak mudah karena Spanyol bisa merecoki.

Pada akhir era 1990-an hingga awal 2000-an, sepak bola Brasil tengah berada di masa keemasan. Titel juara piala Dunia 2002 serta tiga trofi Copa America pada 1997, 1999 serta 2004 menjadi bukti kesuksesan. Tak ayal, Brasil disebut-sebut sebagai kiblat sepak bola.

Akan tetapi belakangan sebutan itu meulai pudar seiring penuirunan prestasi Selecao. Sejak meraih trofi Piala Konfederasi 2009, tidak ada lagi gelar jawara yang direbut Brasil. Sialnya, pada saat yang bersamaan, Spanyol ganti melejit. Secara berturut-turut, La Furia Roja menyabet titel Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Sukses itu diiringi dengan pergeseran persepsi tentang timnas terbaik di muka bumi. Kini, Spanyol yang berhak mendapat predikat sebagai timnas terkuat, menggeser Selecao.

Kenyataan tersebut tentu tidak mengenakkan bagi Brasil. Oleh karena itu, Piala Konfederasi 2013 bisa menjadi ajang yang tepat bagi Selcao untuk bangkit. Apalagi Selcao terbukti memiliki catatan apik di Piala konfederasi. Hingga kini, koleksi tiga trofi juara Piala Konfederasi yang diraih Selecao pada 1997, 2005, 2009 belum bisa disaingi tim manapun.

Akan tetapi resiko juga menyertai kiprah Neymar dkk di Piala Konfederasi 2013. Andai gagal meraih sukses, reputasi mereka bakal semakin tenggelam. Selain itu moril pemain rawan terpukul. Kondisi itu jelas tidak edeal untuk menyambut Piala Dunia 2014 yang bakal digelar di negeri sendiri.

Brasil bukanlah kandidat jawa utama. Eks bintang Selecao, Ronaldo malah menjagokan Spanyol. "Sekarang Spanyol adalah favorit juara. Mereka adalah raja Eropa dan dunia," kata dia.

La Furia Roja juga menyadari status favorit yang mereka sandang. Namun, itu bukannya membebani. Spanyol justru makin bersemangat meraih sukses. "Sungguh menyenangkan bisa hadir di turnamen yang belum pernah kami menangi. Khusus bagiku, aku sangat senang bisa tergabung dalam tim. Kami melihat ke depan, kami berharap menjadi tim terakhir yang bertahan di turnamen dan pulang membawa trofi," tutur  striker Fernando Torres.

Spanyol punya modal besar. Basis kekuatan mereka masih solid. Berbeda dengan Brasil. Menjelang turnamen, performa Selecao belum stabil. Sebelum menang atas Prancis pada Minggu (9/6), Brasil ditahan seri oleh Inggris pada laga persahabatan pada Senin (3/6) di stadion Maracana.

Hasil imbang tentu tidak memuaskan. Tapi Brasil tidak kecil hati. "Kami makin mengenal satu sama lain. Kami semakin tahu pergerakan dan posisi rekan-rekan kami. Pada babak pertama terlihat jelas kami melakukan sentuhan satu dua. Kami bakal bertambah baik," kata Neymar.

Tiada korelasi

Brasil memang berambisi meraih sukses di Piala Konfederasi  2013. Mereka memandang ajang ini sebagai momen untuk menakar kekuatan demi persiapan ke Piala Dunia 2014. Karena dilangsungkan di negeri sendiri, Selecao tak mau kehilangan muka.

Akan tetapi seharusnya Selecao tidak terlalu mementingkan hasil. Terpenting bagi mereka adalah menemukan fondasi  yang lebih tepat bagi Piala Dunia 2014. Pasalnya tidak ada korelasi antara sukses di Piala Konfederasi dan keberhasilan di Piala Dunia.

Contoh nyata bisa dilihat dari tiga keberhasilan Selecao di Piala Konfederasi. Pada 1997, mereka menjadi jawara. Namun di Piala Dunia 1998, Selecao harus puas finis sebagai runner up. Piala Konfederasi 2005 memperlihatkan gejala serupa. Selecao meraih trofi juara, tetapi mereka malah terhenti di perempat final Piala Dunia Piala Dunia 2006. Pencapaian serupa diukir pada Piala Dunia 2010, padahal Selecai menjuarai Piala Konfederasi 2009.

Oleh karena itu, lebih penting bagi Selecao untuk bermain lepas. Piala Konfederasi 2013 bukan segala-galanya.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: antoniachekov@gmail.com

Our Team Memebers