Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

14 Juni 2013

Cikal Bakal Lahirnya Piala Konfederasi

Raja Fahd menjadi embrio turnamen yang mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai benua ini.

Cikal Bakal Lahirnya Piala Konfederasi

Sebagai kompetisi yang mempertemukan tim-tim terbaik dari tiap benua, Piala Konfederasi telah melalui perjalanan panjang untuk menjadi sebuah mini turnamen yang punya nilai tinggi. Dari sebuah turnamen yang digelar Raja Arab, kini sudah berubah menjadi turnamen yang punya gengsi cukup kuat.

Cikal bakal Piala KOnfederasi bisa dibilang sidah dimulai lebih dari 30 tahun lalu. Tepatnya saat berlangsung Mundialito atau sering disebut Copa de Oro de Campenones Mundialis di Uruguay pada 30 Desember 1980 hingga 10 Januari 1981.

Turnamen ini dilangsungkan untuk memperingati 50 tahun gelaran Piala Dunia. Uruguay yang menjad tuan rumah Piala Dunia pertama berinisiatif menggelar turnamen ini dengan mengundang sejumlah tim yang pernah menjuarai Piala Dunia.

Selain Uruguay, Italia, Jerman (Barat), Brasil, dan Argentina ikut meramaikan. Hanya Inggris yang menolak tampil. Posisinya digantikan Belanda yang menjadi runner up Piala Dunia 1974 dan 1978. Mundialito hanya berlangsung sekali tanpa ada kelanjutan dengan Uruguay sebagai juara dan Brasil di runner up.

Turnamen lain yang mempertemukan tim-tim terbaik dari benua berbeda dilangsungkan di Italia. Turnamen yang bertajuk Trofi Artemio Franchi ini mempertemukan juara Piala Eropa dan Juara Copa America. Dari dua kali gelaran (1985 dan 1993), Prancis dan Argentina sukses menjadi juara.

Fondasi Piala Konfederasi yang sesungguhnya lahir pada 1992. Adalah raja Arab Saudi saat itu, Fahd bin Abdulaziz Al Saud, berinisiatif menggelar turnamen yang mempertemukan tim-tim terbaik dari empat benua (Asia, Eropa, Afrika, Amerika Selatan).

Turnamen bernama Piala Raja Fahd inilah yang membuat FIFA menolehkan kepala. Piala Raja Fahd sempat dua kali digelar sebelum diambil alih FIFA pada 1997 dan berganti nama menjadi Piala Konfederasi.

Saat itu, Piala Konfederasi digelar setiap dua tahun. Namun sejak 2005, Piala Konfederasi dimainkan setiap empat tahun sekali. Pihak yang menjadi tuan rumah adalah negara yang akan menggelar Piala Dunia pada tahun berikutnya. Seperti yang dilakoni Brasil tahun ini sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014.

Menolak Tampil

Perjalanan Piala Konfederasi sejak dipegang langsung oleh FIFA tak selalu berjalan mulus. Sejumlah kendala pernah menyertai, seperti penolakn yang dilakukan beberapa tim untuk mengikuti turnamen yang menjadi agenda FIFA ini.

Jerman menjadi tim yang paling sering menolak berpartisipasi di Piala Konfederasi. Kejadian pertama saat Der Panzer baru saja sukses menjuara Piala Eropa 1996. Akibat penolakan Jerman, FIFA pun meminta Republik Cheska yang menjadi runner up Piala Eropa 1996 untuk mengisi kekosongan wakil Eropa di Piala Konfederasi 1997.

Penolakan Jerman yang kedua terjadi menjelang Piala Konfederasi 2003. Jerman yang saat itu berstatus runner up Piala Dunia 2002 memilih tidak berpartisipasi di Piala Konfederasi untuk mewakili benua Eropa. Sebab, Prancis kala itu berstatus tuan rumah bukan wakil benua. Posisi Der Panzer digantikan Turki yang meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2002.

Prancis juga pernah melakukan hal yang sama. Usai menjuarai Piala Dunia 1998, Les Bleus menolak untuk tampil di Piala Konfederasi 1999. Brasil yang menjadi runner up Piala Dunia 1998 dan juara Copa America 1997 ditunjuk sebagai pengganti Prancis.

Entah ada kaitannya dengan penolakan kedua tim tersebut, wakil-wakil Eropa kurang bisa berbicara lantang di Piala Konfederasi. Hanya Prancis dan Denmark yang pernah merengkuh juara. Prancis melakukannya pada 2001 dan 2003 sementara Denmark juara pada 1995.

Tim yang paling sering menjuarai Piala Konfederasi  adalah Brasil. maklum, dari enam gelaran Piala Konfederasi sejak 1997, Selecao hanya sekali absen pada 2003. Dari lima kesempatan yang diikuti, Brasil sukses menjadi Jawara pada 1997, 2005 dan 2009.

Tahun ini, untuk pertama kalinya Brasil menjadi tuan rumah Piala Konfederasi. Itu sekaligus memantapkan posisi mereka sebagai tim yang paling sering tampil di ajang empat tahunan itu. Brasil menjadi satu-satunya negara yang pernah tampil dalam enam Piala Konfederasi.

Sepak Bola Brasil: Antara Tari Dan Olah Bola

goyang samba sepak bola brasil
Agar tak mendapat hukuman, pemain Brasil berkulit hitam harus pandai bergoyang.

Dalam bukunya, Futebol, The Brazilian Way of Life, Alex Bellos menceritakan perkembangan sepak bola di Brasil sangat dahsyat. Ada beberapa hal yang membuat masyarakat di sana begitu menggilai olah raga satu ini, bahkan sudah muncul sejak anak-anak. Menurut Bellos, awalnya banyak uang menyeut sepak bola begitu mendunia di Brasil karena merupakan olah raga paling murah.

Bukannya apa-apa, tingkat kemiskinan di negara berpenduduk sekitar 183 juta jiwa itu cukup tinggi. itu meliputi kurangnya perawatan medis, sulitnya fasilitas air bersih dan sanitasi. Bahkan sudah menjalar ke akses pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan. Sepak bola jelas olah raga yang cukup murah. Hanya membutuhkan satu bola dan bisa dimainkan banyak orang. Tempatnya pun bisa di mana saja. Bisa di gang rumah, sepanjang jalan atau pantai.

Berdasar itu, hampir semua kaki anak-anak di Brasil tak bisa berjauhan dari bola. Terlebih, dari sepak bola, bisa meningkatkan status sosial mereka. Para orang tua sudah menanamkan dalam diri anak-anaknya agar tak terlalu rajin belajar. Cukup dengan pintar sepak bola sudah bisa hidup. Ya, sepak bola dianggap sebagai jalan untuk memperbaiki taraf hidup.

Hanya itukah? Tidak. Dalam bukunya, Bellos menceritakan orang-orang di Brasil menggemari sepak bola karena cinta. Tanpa satu kata itu, Brasil tak akan mendewakan sepak bola. Benar, Brasil begitu mencintai sepak bola. Sebaliknya, sepak bola juga mencintai Brasil.Faktanya, Brasil sebagai satu-satunya negara yang belum pernah absen dalam setiap gelaran Piala Dunia sejak 1930. Mereka juga yang paing sering menjadi juara, sebanyak lima kali (1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002).

Kecintaan anak-anak Brasil pada sepak bola sejak dini dikagumi penyerang timnas Inggris, Jermain Defoe. Jelang laga persahabatan Brasil kontra Inggris (2/6), dia tercengang dengan anak-anak Brasil yang piawai bermain sepak bola sejak dini. Mereka disebutnya memiliki keterampilan dan teknik yang lebih baik dari pemain profesional di Inggris. Saat itu Defoe dan Theo Walcott didaulat mengisi sebauah acara amal bertajuk Bola Pra Frente di Rio de Jeneiro.

"Brasil tak kekurangan pemain berbakat karena sepak bola sudaj menjadi makanan sehari-hari sejak anak-anak," tutur Defoe kepada The Sun.

Budaya Tari

Dis sisi lain, ketenaran sepak bola Brasil tak lepas dari ciri khas permainan mereka. Bahkan berkat itu, mereka bisa menguasai dunia. Timnas Brasil dijuluki Tim Samba karena gaya pemain saat mengolah bola mirip seperti sedang bergoyang tari Samba. Menurut sosiolog asal Brasil, Gilberto de Mello Freyre, dalam tulisan di bukunya, The Masters And Slaves: A Study in The Development of Brazilian Civilization, masyarakat Brasil memiliki banyak ritus untuk memuja kesenangan duniawi. Salah satunya Samba. Oleh kareanya, Brasil memiliki agenda tahunan karnaval di Rio de Jeneiro sebagai wujud kekayaan seni tari mereka.

Lantas kapan masuknya gaya Samba ke sepak bola? Seperti halnya tari Samba yang berakar dari orang-orang kulit Afrika, Brasil pun tak lepas dari orang-orang kulit hitam yang merupakan golongan budak. Memang, perbudakan di Brasil telah dihapus sejak lama. Tapi anggapan orang kulit hitam lebih rendah kedudukannya dari orang kulit putih masih ada kala itu. Di sepak bola, pemain kulit hitam dilarang bersentuhan dengan pemain kulit putih. Andai terjadi, maka akan mendapat hukuman, yakni dipukul atau ditendang.

Oleh karenanya, agar tak 'dianiaya', para pemain kulit hitam Brasil lalu menciptakan gerakan tipuan untuk menghindar dari kontak fisik. Ternyata mereka mengaplikasikan seni tari yang dikuasai ke lapangan hijau. Pada akhirnya pemain Brasil berkulit hitam menggunakan kemampuan tarinya dalam bermain sepak bola.

Faktanya itu sangat berguna untuk menghindari terjangan lawan. Seiring perkembangan zaman, semua pemain Brasil pun berusaha untuk menggabungkan seni tari dan olah bola di lapangan. Karena tari  yang paling dikenal di Brasil  adalah Samba, maka goyangan di lapangan disebut goyang Samba.

Sejarah Sepak Bola Brasil

Sejarah Sepak Bola Brasil
Sepak bola sampai di Brasil tak terlepas dari peran Charles Miller seusai menimba ilmu di Banisters School, Southampton.

Pelabuhan Santos, suatu hari pada 1894. Seorang pria tampak geliasah. Dia adalah John Miller, ekspatriat yang bekerja membuat rangkaian rel kereta api di So Paolo. Hari itu, dia menantikan si anak, Charles Miller, yang usai menimbal ilmu di negeri leluhurnya, Inggris, tepatnya Southampton. Dia berharap sang anak turun dengan ijazah hasil pendidikannya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya John ketika melihat Charles menuruni tangga kapal dan tiba di hadapannya. Charles menenteng dua buah bola sepak. Datu di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri. "Charles, apa itu?" tanya John seketika. Sang anak dengan ringan menjawab, "Ini diplomaku, ayah." Aku lulus dari pendidikan sepak bola."

Penggalan cerita itulah yang tersurat dalam buku Futebol, The Brazilian Way of Life ketika sang penulis, Alex Bellos, berkisah tentang awal mula kedatangan sepak bola Brasil. Seperti di negara-negara lain, sepak bola memang datang ke negeri Samba lewat orang Britania Raya. Bedanya, Charles Miller sebenarnya orang Brasil. Ayahnya, John, berasal dari Inggris. Sementara sang ibu asli dari Brasil.

Pada 1884, John sengaja mengirim Charles yang kala itu berumur 10 tahun ke Inggris. Maksudnya agar Charles mendapat pendidikan yang baik tentang segala hal. Di Bannisters School, Charles mendapatkan itu semua. Namun selain itu, di sana pula ia mengenal sepak bola dan menjadi pemain ulung hingga mendapat kesempatan bergabung dengan St. Mary's, klub yang menjadi cikal bakal Southampton sekarang.

Sejarah itu mendapat pertentangan dari Richard McBrearty, kurator dari museum sepak bola Skotlandia. Pada 2011 dia menemukan fakta bahwa Thomas Donohue, ekspatriat asal Skotlandia, yang membawa sepak bola ke Brasil saat bekerja di pabrik tekstil di Bangu, Rio De Jeneiro pada 1893. Enam bulan sebelum Miller membentuk klub So Paolo, tepatnya di suatu minggu pada April 1894, pertandingan sepak bola pertama digelar dengan satu tim hanya berisi lima pemain.

"Miller memang figur penting, tetapi seharusnya Donohue juga dihargai sebagai orang yang mengenalkan sepak bola di Brasil dan kepada orang-orang miskin yang lantas menjaga permainan itu tetap hidup," terang MvBrearty seperti dikutip Herald Scotland pada 24 Maret 2011.

Kontribusi Imigran

Terlepas dari kontroversi soal Miller dan Donohue, satu hal yang pasti, sejarah awal sepak bola Brasil tak bisa dilepaskan dari peran ekspatriat. Selain Miller dan Donohue, ada sosok-sosok lain yang memegang peranan penting, diantaranya adalah Oscar Cox dan Hans Nobiling.

Jika Miller menjadi sosok sentral perkembangan sepak bola Sao Paolo dengan mendirikan klub di sana dan lantas menggelar kompetisi di wilayah itu pada 1902, Cox berkontribusi besar di Rio de Jeneiro. Seperti Miller, Cox juga Anglo Brazilian. Namun dia mengenal sepak bola saat menimba ilmu di Laussane, Swiss. Setelah mengenalkan sepak bola pada 1901, Cox mendirikan Fluminense bersama 19 rekannya.

Sementara itu, Nobiling yang berasal dari Jerman berkontribusi dalam mengenalkan peraturan sepak bola. Pada 1897, Nobiling yang pernah membela tim junior SC 1887 Germania, cikal bakal Hamburger SV, membawa peraturan sepak bola yang berlaku di klubnya ke Brasil. Lalu dia mendirikan SC Internacional setelah ditampik Sao Paolo.

Mengingat pengaruh sangat besar dari ekspatriat dari Eropa, sepak bola di Brasil pada awalnya hanya berkembang di kalangan eknomi atas yang didominasi orang-orang berkulit putih. Orang-orang kulit hitam hanya bisa menonton, itu pun dari atap rumah dengan mencuri-curi. Namun, pada akhirnya mereka bisa bergabung juga. Bangu Athletic Club, klub yang didirikan Donohue, tercatat sebagai pionir dalam hal ini.

Itu menjadi tonggak tersendiri. Pasalnya, seperti diakui Belo dan ditegaskan McBrearty, hanya dengan keterlibatan orang kulit hitamlah sepek bola menjadi budaya di Brasil. Bahkan sejarah mencatat, superstar pertama adalah peranakan kulit hitam. Dia adalah Artur Friedenreich dan wanita Brasil berkulit hitam, Mathilde.

Friedenreich memulai kiprahnya di klub pecahan dari Internacional, SC Germania, pada 1909. Sebuah catatan menyatakan dialah orang yang lebih dulu membukukan lebih dari 1000 gol dibanding Pele. Sayangnya, Friedenreich tak sempat mendunia. Pada 1930, dia gagal bermain di Piala Dunia karena timnas Brasil hanya boleh diisi pemain-pemain asal Rio de Jeneiro, sementara dia tinggal di Sao Paolo.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: antoniachekov@gmail.com

Our Team Memebers