20 April 2013

Sejarah PSSI


PSSI hari ini berulang tahun. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia didirikan pertama kali pada 19 April 1930. Kala itu bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia, dengan ketua umum Ir. Soeratin Sosrosoegondo.

Dilihat dari sejarahnya, sepakbola sudah populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hanya saja, sepak bola untuk mencari keuntungan finansial baru terpikirkan sejak 10 tahun sebelum cikal bakal PSSI itu terbentuk. Efek domino dari depresi ekonomi yang melanda Eropa tahun 1920.

Adanya krisis tersebut mengakibatkan Harga jual hasil bumi pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Indonesia merosot tajam di pasar Eropa. Sehingga banyak perusahan dan pabrik-pabrik yang bangkrut. PHK tak bisa dihindari. Nilai jual hasil pertania yang sangat rendah mengakibatkan penduduk enggan menjadi petani.

Pada situasi seperti itulah upaya industrialisasi sepakbola di bumi Nusantara pun dimulai. Pekerjaan sebagai "pemain sepakbola" mulai dicari-cari orang. Para artis opera lah yang banyak memberikan andil komersialisai sepak bola saat itu.

Rombongan opera banyak menciptakan klub. Para pencari bakat dari rombongan opera itu mulai berkeliling kampung mencari bakat-bakat yang bisa laku dijual saat dipertunjukan pada penonton.

Mereka banyak melakukan pekerjaan ganda. Di malam hari pemain mempersiapkan panggung, di siang harinya mereka harus bermain bola.

Karcis-karcis pertandingan dijual. Reklame-reklame iklan dari berbagai macam toko pun mulai dipasang di sekeliling lapangan.

Hasil dari bisnis sepakbola ternyata cukup menggiurkan. Meskipun ekonomi minim, para gila bola ini ternyata tak enggan mengeluarkan uangnya untuk sekadar menyaksikan hiburan bola. Dalam pertandingan ujicoba persahabatan di Bandung Tahun 1922, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) --PSSI nya Hindia Belanda-- berhasil meraup untung 12.425 Gulden dari 12.559 orang yang hadir di lapangan pertandingan. Jumlah ini sangatlah besar di zamannya.

Sementara NIVB menjadikan sepakbola untuk keuntungan bisnis, tim-tim pribumi memberikan semua hasil penjualan karcis pertandingan untuk kegiatan sosial dan pendidikan.

Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) --cikal Bakal Persis Solo-- berhasil menggalang dana Rp 32.000 dari turnamen sepakbola yang digelar untuk memeriahkan pasar malam untuk pelajar tahun 1924. Di tempat yang sama, tahun 1927, Muhammadiyah menggelar pertandingan yang hasil keuntungan diserahkan kepada pedagang korban kebakaran di Pasar Baru.

Pada era itu, banyak bermunculan klub-klub (bond) sepak bola daerah, seperti Soerabaja Indonesische Voetbal Bond (SIVB), Vorsterlansche Voetbal Bond (VVB), Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) dan PS Hizboel Wathan (Jogja).

Lalu muncullah usaha-usaha untuk menyatukan bond-bond tersebut. Midle Javasche Voetbal Bond (MJVB) dibentuk di Solo untuk mempersatukan semua bond pribumi di Jawa Tengah. Namun tidak mampu bertahan lama.

Lalu pada 1924, organisasi sepakbola seluruh Jawa, atau Javasche Voetbal Bond (JVB) dibentuk oleh tiga priyayi, Dr. Wediodiningrat, Djaksodipuro dan Wongsonegoro. Namun mengalami nasib yang serupa dengan (MJVB).

Selang 3 tahun kemudian, atau tepatnya 2 Oktober 1927, muncul organisasi sepak bola yang menyatukan Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) --cikal Bakal Persis Solo, PS Hizboel Wathan (Jogja), Vorsterlansche Voetbal Bond (VVB), Soerabaja Indonesische Voetbal Bond (SIVB), dan Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB). Organisasi itu dibentuk Soebroto, R.T Tjidarboemi, A.Soeroto dan Soedarboemi di Surabaya. Dinamai Indonesische Voetbal Bond (IVB). Menggunakan gambar "gula aren" sebagai dasar lambang organisasi.

Hingga 30 April 1930, IVB membubarkan diri karena kedekatannya dengan sepak bola Belanda hingga melenceng dari tujuan semula. Pembubaran IVB menjadi awal terbentuknya organisasi baru yang disebut PSSI.

Sumber: pakishijau.com

0 comments:

Posting Komentar

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: antoniachekov@gmail.com

Our Team Memebers